RINGKASAN
- Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
- Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
- Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
- Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
- Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
Abu Dujanah memeluk anak-anaknya satu persatu. Anak yang dulu menangis karena kurma dikeluarkan dari mulutnya kini memeluk kaki ayahnya sambil tersenyum.
“Ayah, apakah ini milik kita?”
Abu Dujanah mengangguk. Ia tidak mampu berbicara panjang. Hanya berbisik pelan, “Ini dari Allah, bukan dari manusia.”
Para tetangga yang menyaksikan ikut haru. Salah satunya berkata, “Beginilah balasan untuk orang yang takut kepada Allah.”
Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah, beliau tersenyum lega. Beliau tidak terkejut. Karena beliau tahu—ketika seseorang menjaga agamanya dengan sebenar-benarnya, Allah membuka jalan dengan cara yang tidak pernah terlintas di benak manusia.
Abu Dujanah berdiri di bawah pohon itu sepanjang pagi. Ia menyentuh batangnya. Ia memandang anak-anaknya yang memanjat ranting bawah dengan penuh sukacita. Ia merasakan beban yang selama ini ia pikul, seakan diangkat oleh tangan yang tidak terlihat.
Dan di tengah semua itu, ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Tapi jalan keluar itu datang bagi orang yang tidak mengorbankan agamanya untuk kenyamanan sesaat.”
Inilah kisah seorang sahabat miskin yang kaya iman. Seorang ayah yang rela melihat anaknya menangis demi menjaga kehalalan. Dan balasan dari Allah yang bukan sekadar berupa pohon kurma—melainkan kelapangan rezeki, ketenangan hati, dan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan uang seberapapun banyaknya.

Tinggalkan Balasan