RINGKASAN
- Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
- Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
- Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
- Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
- Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
“Saya takut, ya Rasulullah. Mereka bangun lebih awal dari saya.”
Lalu Abu Dujanah bercerita tentang sebuah pagi yang membuatnya tidak bisa lupa.
Ia terlambat beberapa langkah. Dan ketika keluar, ia melihat anak bungsunya—yang masih terlalu kecil untuk memahami hukum kepemilikan—sudah duduk di tanah sambil menggenggam sebutir kurma yang jatuh. Senyum kecil mengambang di wajah sang anak. Senyum yang polos. Senyum yang membuat Abu Dujanah seketika hancur di dalam.
“Nak, itu bukan milik kita.”
Tapi perut yang lapar tidak paham penjelasan. Sebelum ayahnya sempat meraih tangannya, sang anak sudah memasukkan kurma itu ke dalam mulut. Gerakannya refleks. Cepat. Seakan tubuh kecilnya menolak untuk menunggu.
Abu Dujanah menghentikan ceritanya. Ia menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan.

Tinggalkan Balasan