BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Tidak semua kemuliaan lahir dari kekayaan. Di tengah gempita persiapan Perang Tabuk—salah satu ekspedisi militer terbesar dalam sejarah Islam—seorang sahabat miskin dari golongan Anshar justru menorehkan kisah yang tak lekang oleh waktu. Namanya Ulbah bin Zaid al-Haritsi, dan sedekahnya pada suatu malam sunyi di Madinah konon menggetarkan Arasy Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah ini terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriah. Kota Madinah tengah dilanda musim paceklik. Angin panas bertiup, debu beterbangan, dan suhu udara terasa menyengat kulit. Namun suasana itu tidak menyurutkan semangat kaum muslimin yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri, memenuhi jalanan Madinah dengan bunyi derap kuda, dencingan pedang, dan riuh persiapan perang.

Ancaman datang dari utara. Kekaisaran Romawi—adidaya terbesar di masanya—tengah menyusun kekuatan untuk membalas kekalahan memalukan mereka di Perang Mu’tah, di mana tiga ribu pasukan Muslim berhasil memukul mundur dua ratus ribu tentara gabungan Romawi dan sekutu-sekutunya. Rumor pembalasan menyebar di kalangan muslimin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun mengumumkan secara terbuka tujuan ekspedisi kali ini: Tabuk, sebuah wilayah jauh di utara jazirah Arab.

Berbeda dengan biasanya, kali ini Rasulullah tidak menyembunyikan arah gerakan pasukan. Ini adalah perang terbuka, dan yang tidak siap—baik secara fisik maupun mental—akan ketinggalan.



Follow Widget