RINGKASAN

  1. Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
  2. Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
  3. Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
  4. Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
  5. Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Lelaki itu langsung menangkap peluang. Matanya menyempit. Ia menyebutkan harga sepuluh kali lipat dari nilai normal pohon kurma sejenis—angka yang membuat para sahabat saling pandang tidak percaya.

Namun sebelum Rasulullah sempat menjawab, terdengar suara tegas dari sudut majelis.

“Aku yang akan membayarnya.”

Abu Bakar As-Siddiq. Tanpa ragu, tanpa tawar-menawar. Ia segera memerintahkan uang dibawa dan diserahkan. Lelaki munafik itu menghitung setiap keping dengan teliti, wajahnya berbinar seperti pedagang yang merasa baru saja menipu lawan. Ia meninggalkan majelis dengan dada membusung, yakin bahwa ia telah memenangkan permainan.

Di rumahnya, ia bahkan menyusun rencana: bangun sebelum fajar, memanjat pohonnya, dan memanen buah yang tersisa sebelum pihak Rasulullah sempat mengambil alih. “Uang sebanyak ini cukup untuk sepuluh pohon baru,” katanya bangga pada istrinya. “Dan pohonnya masih bisa kupanen malam ini.”

Tapi malam itu, sesuatu terjadi di Madinah—sesuatu yang tidak ada manusia yang memerintahkan.

Ketika fajar belum tiba, para tetangga Abu Dujanah dikejutkan oleh suara sangat halus—seperti tanah yang bergeser. Ketika matahari mulai merangkak naik, salah seorang tetangga melihat sesuatu yang membuat matanya terbelalak.



Follow Widget