RINGKASAN

  1. 1 Muharram, penanda awal tahun baru dalam kalender Hijriah, memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, berbeda dari perayaan tahun baru Masehi yang bersifat meriah.
  2. Kalender Hijriah lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab sebagai solusi atas kebingungan penanggalan, dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal.
  3. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan simbol keberanian, strategi, dan kepercayaan penuh kepada Allah SWT, serta merupakan momen pembangunan masyarakat dan fondasi peradaban Islam.
  4. Bulan Muharram memiliki keistimewaan sebagai 'bulan yang diharamkan' atau 'disucikan', di mana amal kebaikan dilipatgandakan namun dosa perbuatan buruk juga lebih berat timbangannya.
  5. Amalan utama di bulan Muharram meliputi puasa sunnah (terutama Asyura dan Tasu'a), sedekah, membaca Al-Quran, zikir, dan mempererat silaturahmi, serta menjadikannya momentum untuk introspeksi diri (muhasabah) dan menyusun resolusi spiritual.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

JAZIRAH – Bagi sebagian orang, pergantian tahun identik dengan pesta kembang api dan hiruk-pikuk malam 31 Desember. Namun bagi umat Islam, ada momen yang jauh lebih sarat makna: 1 Muharram, penanda awal tahun baru dalam kalender Hijriah yang lahir dari peristiwa bersejarah dan penuh nilai spiritual.

Berbeda dari perayaan tahun baru Masehi yang bersifat meriah dan serba hiburan, 1 Muharram justru mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan memperbarui komitmen kepada Allah SWT. Momen ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan undangan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Kalender Hijriah tidak muncul begitu saja. Sistem penanggalan Islam ini lahir dari kebutuhan nyata pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, sekitar 17 tahun setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi.

Pemicunya sederhana namun nyata: sebuah dokumen resmi yang diterima Khalifah Umar hanya mencantumkan nama bulan “Sya’ban” tanpa keterangan tahun. Dokumen itu menimbulkan kebingungan—apakah Sya’ban yang dimaksud sudah lewat, sedang berjalan, atau belum tiba. Di saat hampir bersamaan, Gubernur Basra, Abu Musa Al-Asy’ari, juga mengirim surat protes karena sulitnya mengarsipkan korespondensi pemerintahan tanpa sistem penanggalan yang baku.

Umar bergerak cepat. Ia mengumpulkan para sahabat terkemuka—Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya—untuk merumuskan kalender resmi umat Islam. Setelah musyawarah panjang, disepakati bahwa penanggalan Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi SAW. Maka 1 Muharram pun ditetapkan sebagai awal tahun baru Islam, sebuah keputusan yang bertahan hingga lebih dari empat belas abad kemudian.



Follow Widget