RINGKASAN

  1. Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
  2. Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
  3. Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
  4. Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
  5. Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Madinah belum sepenuhnya terang ketika para sahabat mulai berdatangan ke masjid Nabi. Udara subuh yang dingin, langkah-langkah kaki yang pelan, dan denting suara azan menjadi pemandangan rutin yang indah di kota itu. Namun di antara semua yang hadir, ada satu sosok yang selalu menarik perhatian—bukan karena kemewahan penampilannya, melainkan karena keanehan kebiasaannya.

Abu Dujanah, seorang sahabat yang dikenal miskin dan sederhana, selalu datang paling awal. Bahkan sebelum iqamah dikumandangkan, ia sudah duduk tenang di saf pertama. Punggungnya tegak, wajahnya khusyuk, dan tidak ada yang meragukan kedalaman imannya. Para sahabat lain sering bergumam, “Kalau bukan karena azan belum selesai, aku kira Abu Dujanah tinggal di masjid.”

Tapi ada satu hal yang membuat banyak sahabat berbisik-bisik heran.

Setiap kali Rasulullah selesai mengucap salam penutup salat subuh, Abu Dujanah langsung bangkit. Tidak duduk, tidak berzikir bersama, tidak menunggu nasihat pagi dari Nabi. Ia pergi—kadang seperti berlari kecil, langkahnya cepat dan tidak sempat menyapa siapapun. Wajahnya bukan wajah orang marah atau sombong. Ia tampak seperti seseorang yang mengejar sesuatu yang sangat penting.

Keanehan ini terjadi setiap hari. Tanpa pengecualian.

Beberapa sahabat mulai bertanya-tanya. Ada yang menduga ia sakit. Ada yang mengira ia punya urusan mendesak. Ada yang—meski tidak berani bersuara keras—mempertanyakan apakah ia kurang menghormati momen bersama Rasulullah. Namun mereka yang mengenalnya dengan baik segera menolak dugaan buruk itu. Abu Dujanah bukan tipe orang yang ceroboh soal adab.

Sampai akhirnya kabar itu sampai ke telinga Rasulullah.

Nabi tidak marah. Beliau tidak memanggil di depan umum. Beliau menunggu waktu yang tepat—karena menjaga kehormatan seseorang jauh lebih penting daripada memuaskan rasa penasaran banyak orang. Keesokan harinya, setelah salam salat subuh, sebelum Abu Dujanah sempat bangkit, terdengar suara lembut namun cukup untuk menghentikan langkah siapapun.

“Wahai Abu Dujanah, kemarilah.”



Follow Widget