RINGKASAN

  1. Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
  2. Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
  3. Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
  4. Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
  5. Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Sebuah pohon kurma berdiri tegak di samping dinding rumah Abu Dujanah. Bentuknya, daunnya, cara batangnya condong—semuanya persis seperti pohon milik lelaki munafik itu. Tapi tidak ada bekas galian. Tidak ada jejak penanaman. Seolah pohon itu memang sudah berdiri di sana sejak awal.

Di sisi lain kota, lelaki munafik itu terbangun dengan semangat besar, mengambil keranjangnya, dan keluar ke halaman. Langkahnya terhenti setelah beberapa meter.

Pohonnya hilang.

Tidak ada potongan batang. Tidak ada daun berserakan. Bahkan lubang bekas akarnya pun tidak ada. Tanah di halamannya rata dan bersih, seolah tidak pernah ditumbuhi apapun. Ia memutari halaman tiga kali, mengintip ke kiri dan kanan, tapi tidak menemukan apa-apa. Ia berteriak tanpa arah. Tidak ada yang menanggapi.

Sementara itu, di rumah Abu Dujanah, suasananya sangat berbeda.

Ketika Abu Dujanah keluar untuk salat subuh dan melihat kerumunan orang di depan rumahnya, ia bingung. Tapi begitu matanya menangkap pohon kurma yang berdiri kokoh di halamannya, ia terdiam. Tidak ada kata yang keluar.

Istrinya ikut keluar sambil menggendong anak bungsu mereka. Air matanya jatuh begitu saja.

Anak-anak Abu Dujanah memandang pohon itu dengan mata berbinar—pohon yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari jauh, yang buahnya tidak boleh mereka sentuh meski jatuh ke halaman sendiri. Kini pohon itu berdiri di tanah mereka. Penuh buah. Halal sepenuhnya.



Follow Widget