RINGKASAN
- Hewan kurban yang disembelih pada Idul Adha akan hadir di hari kiamat kelak sebagai saksi ibadah kurban pemiliknya.
- Larangan memotong kuku dan rambut di awal Zulhijah hukumnya sunah, bukan wajib, dan tidak membatalkan kurban jika tetap dilakukan.
- Keutamaan jenis hewan kurban adalah yang paling banyak dagingnya dinikmati fakir miskin, bukan berdasarkan jenis hewan semata.
- Satu kambing untuk satu orang/keluarga inti, sedangkan sapi/unta bisa untuk tujuh orang, dan boleh mencampur niat kurban untuk yang masih hidup dan yang sudah meninggal.
- Kurban online melalui lembaga terpercaya hukumnya sah, karena menyaksikan penyembelihan secara langsung hanya bersifat sunah.
PUNGGAWAJAZIRAH – Seekor kambing yang disembelih pada Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan. Menurut Ustadz Abdul Somad dalam pengajian fiqih kurban, hewan itu akan hadir di hari kiamat kelak—lengkap dengan tanduk, bulu, dan kukunya—sebagai saksi bahwa pemiliknya telah menunaikan ibadah kurban. Hadis inilah yang seharusnya menjadi pengingat paling kuat bagi setiap Muslim yang mampu berkurban namun masih menunda niat.
Pengajian yang berlangsung sekitar satu jam ini mengupas tuntas persoalan fiqih yang kerap membingungkan masyarakat menjelang Idul Adha. Dari hukum memotong kuku dan rambut di awal Zulhijah, tata cara berbagi daging, hingga boleh-tidaknya kurban dicampur dengan akikah—semuanya dijelaskan dengan referensi kitab yang jelas dan bahasa yang mudah dicerna.
Pertanyaan pertama yang sering muncul di masyarakat adalah soal larangan memotong kuku dan mencukur rambut mulai tanggal 1 Zulhijah. Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa hukumnya bukan wajib, melainkan sunah. Siapa pun yang tetap memotong kuku atau mencukur kumis selama sembilan hari pertama Zulhijah, kurbannya tidak batal dan hukumnya mubah. Hikmah di balik anjuran ini adalah terapi psikologis—setelah sembilan hari menahan diri, saat pisau penyembelih bekerja, seseorang merasakan kesegaran baru ketika akhirnya memotong kuku dan merapikan penampilan.
Soal keutamaan jenis hewan kurban, para ulama tidak selalu sepakat. Sebagian berpendapat unta paling utama merujuk pada hadis tentang keutamaan datang lebih awal ke salat Jumat. Sebagian lain memilih kambing karena Nabi Ibrahim ditebus dengan seekor domba. Ustadz Abdul Somad mengambil jalan tengah: yang paling utama adalah hewan yang dagingnya paling banyak dinikmati fakir miskin. Seekor kambing berbobot 200 kilogram lebih afdal daripada sapi kurus yang dibagi tujuh orang.

Tinggalkan Balasan