RINGKASAN
- Abu Dujanah, seorang sahabat Nabi yang miskin namun kaya iman, selalu pergi lebih awal setelah salat Subuh karena ingin memastikan tidak ada kurma jatuh dari pohon tetangga yang menjulur ke rumahnya yang dimakan oleh anak-anaknya yang kelaparan.
- Ia sangat menjaga kehalalan rezeki keluarganya, bahkan rela mengeluarkan kurma dari mulut anaknya yang kelaparan daripada membiarkannya memakan sesuatu yang bukan haknya.
- Rasulullah SAW menangis haru mendengar perjuangan Abu Dujanah dan memujinya memiliki ketakwaan yang lebih berat dari Gunung Uhud.
- Pemilik pohon kurma yang memiliki sifat kikir dan licik menjual pohonnya dengan harga sepuluh kali lipat, namun Abu Bakar As-Siddiq segera membelinya untuk menyelesaikannya.
- Keajaiban terjadi ketika pohon kurma itu secara misterius berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah, sementara pohon aslinya hilang dari halaman si pemilik yang serakah, sebagai balasan atas keteguhan imannya.
“Saya harus mengeluarkan kurma itu dari mulutnya, ya Rasulullah.”
Anaknya menangis. Bukan karena nakal, bukan karena keras kepala. Hanya karena lapar. Tangis kecil yang lirih itu membuat Abu Dujanah merasa seperti ayah paling gagal di dunia. Tapi di saat yang sama, ia tahu satu hal: membiarkan anaknya memakan sesuatu yang bukan haknya adalah pengkhianatan terhadap seluruh nilai yang ia jaga sepanjang hidupnya.
Ia memeluk sang anak. Dan berbisik, “Kalau ini bukan milik kita, Allah tidak akan ridha. Lebih baik kau menangis sekarang daripada saya yang menangis di akhirat.”
Suasana majelis berubah sunyi sepenuhnya.
Rasulullah menutup mata. Dada beliau naik-turun lebih cepat dari biasanya. Ketika beliau mengangkat wajah, mata beliau sudah basah. Air mata mengalir deras di pipi Nabi—tangis seseorang yang merasakan betapa beratnya perjuangan seorang umat yang sederhana, yang tidak pernah membuat dirinya terlihat.
Para sahabat saling pandang. Mereka belum pernah melihat intensitas tangisan seperti itu.
Abu Dujanah tertunduk. Gemetar. “Maafkan aku bila ceritaku membuatmu sedih, ya Rasulullah.”
Rasulullah tidak langsung menjawab. Ia mengusap matanya, menarik napas dalam, lalu menggenggam telapak tangan Abu Dujanah dengan lembut.

Tinggalkan Balasan