RINGKASAN
- Asiyah binti Muzahim, istri Firaun, menyimpan rahasia iman kepada Allah di istana termewah di Mesir kuno, di tengah kekejaman suaminya yang mengaku Tuhan.
- Asiyah menyelamatkan bayi Musa dari pembunuhan oleh Firaun dan merawatnya di istana, memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
- Meskipun tumbuh di istana Firaun, Musa kelak diutus Allah untuk meruntuhkan kezaliman Firaun, dan ini mengguncang hati Asiyah yang mencari kebenaran.
- Menyaksikan penyiksaan brutal terhadap seorang pelayan dan bayinya yang beriman, Asiyah akhirnya menyatakan keimanannya kepada Allah di hadapan Firaun.
- Asiyah disiksa dan dipasrahkan ke tanah di padang pasir oleh Firaun, namun ia tetap tersenyum dan memohon kepada Allah, yang memperlihatkan istana di surga sebelum ia wafat.
PUNGGAWAJAZIRAH – Di dalam istana termewah di muka bumi, di balik dinding marmer dan tirai sutra, seorang perempuan menyimpan rahasia paling berbahaya yang bisa dimiliki siapa pun di Mesir kuno—iman kepada Allah, Tuhan yang bukan Firaun.
Itulah Asiyah binti Muzahim, istri penguasa terkejam zamannya. Perempuan yang namanya diabadikan Al-Qur’an, dipuji Rasulullah SAW sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa, dan dikenang bukan karena singgasana yang pernah ia duduki, melainkan karena keyakinan yang ia peluk hingga napas terakhir.
Firaun berkuasa mutlak atas Mesir. Ia memaksa rakyat bersujud padanya, mengaku sebagai tuhan, dan menghukum setiap pembangkang dengan brutal. Pasukannya menyisir jalanan, membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil, karena mimpi mengerikan memperingatkan bahwa seorang anak dari kaum itu kelak akan meruntuhkan tahtanya.
Jeritan para ibu yang kehilangan bayi menembus dinding istana. Dan Asiyah mendengar semuanya.

Tinggalkan Balasan