RINGKASAN

  1. Suhaib bin Sinan Ar-Rumi, lahir dari keluarga terpandang di Irak Utara, mengalami masa kecil yang tragis saat diculik tentara Romawi, dijual sebagai budak, dan tumbuh di tanah asing tanpa kebebasan.
  2. Setelah mendapatkan kebebasan, Suhaib membangun kembali hidupnya dengan berdagang di Mekah, menjadi salah satu pedagang yang disegani berkat ketekunan dan kemampuannya.
  3. Suhaib tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad tentang keesaan Allah dan memutuskan untuk memeluk Islam secara diam-diam, yang kemudian membuatnya menghadapi cemoohan dan siksaan dari kaum Quraisy.
  4. Saat diperintahkan hijrah ke Madinah, Suhaib dihadang kaum Quraisy dan sebagai gantinya ia menyerahkan seluruh hartanya demi mendapatkan kebebasan untuk bergabung dengan Nabi, sebuah pengorbanan yang disebut Nabi sebagai 'jual beli yang beruntung'.
  5. Menjelang wafatnya, Khalifah Umar bin Khattab menunjuk Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama pemilihan khalifah baru, menunjukkan tingginya kepercayaan yang diberikan kepadanya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Tidak banyak manusia dalam sejarah Islam yang perjalanan hidupnya segetir sekaligus semulia Suhaib bin Sinan Ar-Rumi. Lahir dari keluarga terpandang di wilayah Irak Utara, ia dirampas masa kecilnya oleh tentara Romawi, dijual sebagai budak, lalu tumbuh di tanah asing tanpa keluarga dan tanpa kebebasan. Namun dari titik terendah itulah sebuah kisah luar biasa bermula.

Suhaib kecil tak punya pilihan selain bertahan. Ia belajar bahasa Romawi, menyerap budaya mereka, hingga fasih berbicara seperti penduduk asli. Di sinilah asal julukan “Ar-Rumi” melekat padanya, sang lelaki yang terasa seperti orang Romawi. Bertahun-tahun ia hidup dalam status budak, menanggung beban yang tak semestinya ia pikul sejak kecil.

Namun takdir memiliki rencananya sendiri. Suhaib akhirnya mendapatkan kebebasan. Dengan ketekunan dan kemampuan berdagang yang terasah selama bertahun-tahun, ia membangun usaha dari nol di Mekah. Sedikit demi sedikit, ia menjadi salah satu pedagang yang disegani. Kehidupan duniawi yang dulu dirampas darinya perlahan ia rebut kembali dengan kerja kerasnya sendiri.

Lalu datanglah angin yang mengubah segalanya.

Di Mekah, sayup-sayup terdengar kabar tentang seorang lelaki bernama Muhammad yang menyampaikan ajaran baru, berbicara tentang keesaan Allah, keadilan, kasih sayang, dan pembebasan dari kebodohan jahiliah. Suhaib yang penasaran mencari tahu. Ia mendengar bahwa dakwah itu dilakukan secara rahasia di rumah Arqam bin Abi Arqam. Dengan hati berdebar ia pergi ke sana.



Follow Widget