Semua orang mendapat peluang ke surga. Kecuali, dalam bayangannya, dirinya sendiri.
Ulbah pulang ke rumah dengan dada sesak. Ia berbaring di atas tikar yang lusuh, mencoba memejamkan mata, namun pikiran terus berputar. Apa yang bisa ia sedekahkan? Ia tidak punya harta. Tidak punya bekal. Tidak punya apapun yang dapat ia tawarkan demi perang di jalan Allah.
Hingga tengah malam, sebuah gagasan muncul dari kedalaman hatinya.
Ia bangkit, berwudhu, lalu mengerjakan shalat malam. Di dalam sujud dan doanya, ia menumpahkan segala kepedihan kepada Allah. Ia mengakui kelemahannya, ketidakberdayaannya, dan rasa takutnya bahwa kemiskinan ini akan menggusur kedudukannya di sisi Allah dibanding sahabat-sahabatnya yang lain.
Lalu ia berdoa dengan kalimat yang mengubah segalanya.

Tinggalkan Balasan