Impian itu mulai mendekati kenyataan ketika Suhaib akhirnya dijual kepada seorang saudagar kaya Mekah bernama Abdullah bin Judan. Di tangan majikan barunya, nasib Suhaib berbalik. Abdullah bin Judan melihat kejujuran dan kecerdasan dalam diri Suhaib, lalu membebaskannya—bahkan menjadikannya mitra bisnis. Dari mantan budak, Suhaib menjelma menjadi salah satu orang terkaya di kota Mekah. Namun kemewahan tak membuatnya lupa pada penantian panjangnya.
Suatu hari, sepulang dari perjalanan bisnis, seseorang menyampaikan kabar yang menggetarkan: seorang lelaki dari Bani Hasyim bernama Muhammad bin Abdullah telah diutus sebagai nabi. Suhaib langsung tahu—inilah orang yang diceritakan para pendeta itu. Tanpa pikir panjang, ia melangkah menuju rumah Arqam bin Abi Arqam di dekat Bukit Safa, tempat Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi.
Di depan pintu rumah itu, Suhaib bertemu dengan Ammar bin Yasir yang memiliki tujuan sama. Keduanya masuk bersama, mendengar ajaran Islam langsung dari Rasulullah, dan pada hari itu juga menyatakan keislaman mereka. Suhaib bin Sinan Ar-Rumi tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama dari kalangan Romawi yang memeluk Islam—sebuah keistimewaan yang disabdakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Keislaman Suhaib tidak datang tanpa harga. Ia tak memiliki saudara atau kabilah yang bisa melindunginya dari keganasan kaum Quraisy. Siksaan demi siksaan ia terima dengan sabar. Hingga tibalah perintah hijrah ke Madinah.

Tinggalkan Balasan