PUNGGAWAJAZIRAH – Ada kisah seorang sahabat Nabi yang rela melepaskan seluruh kekayaannya—bukan karena terpaksa, melainkan karena satu hal yang jauh lebih berharga dari emas dan perak: iman. Dialah Suhaib bin Sinan Ar-Rumi, pria berdarah Arab yang dibesarkan di tanah Romawi, dan namanya diabadikan dalam firman Allah di Surah Al-Baqarah ayat 207.
Suhaib lahir pada sekitar 587 Masehi, tiga puluh lima tahun sebelum hijrah ke Madinah. Ayahnya, Sinan bin Malik, adalah gubernur wilayah Ubullah—sebuah daerah di bawah kekuasaan Persia—yang ditunjuk langsung oleh raja Persia, Kisra. Meski tinggal jauh dari Jazirah Arab, Suhaib sejatinya berdarah Arab tulen. Keluarganya bermukim di tepi Sungai Efrat, hidup dalam kemewahan istana.
Namun nasib berkata lain ketika Suhaib baru berusia lima tahun. Pasukan Romawi menyerbu distrik tempat tinggalnya, membunuh keluarga dan para penjaga istana. Suhaib yang masih bocah tertangkap dan dijadikan budak. Bertahun-tahun ia menjalani hidup sebagai hamba sahaya di wilayah Romawi, jauh dari tanah leluhurnya.
Di balik kepedihan itu, tersimpan hikmah yang kelak mengubah sejarah hidupnya. Selama menjadi budak, Suhaib kerap mendengar pembicaraan para pendeta Nasrani yang menyebut akan datangnya seorang nabi terakhir dari tanah Arab. Informasi itu tertancap dalam di hatinya. Sejak saat itu, ada satu impian yang tak pernah padam: kembali ke tanah Arab dan berjumpa dengan nabi yang dijanjikan itu.

Tinggalkan Balasan