RINGKASAN

  1. Asiyah binti Muzahim, istri Firaun, menyimpan rahasia iman kepada Allah di istana termewah di Mesir kuno, di tengah kekejaman suaminya yang mengaku Tuhan.
  2. Asiyah menyelamatkan bayi Musa dari pembunuhan oleh Firaun dan merawatnya di istana, memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
  3. Meskipun tumbuh di istana Firaun, Musa kelak diutus Allah untuk meruntuhkan kezaliman Firaun, dan ini mengguncang hati Asiyah yang mencari kebenaran.
  4. Menyaksikan penyiksaan brutal terhadap seorang pelayan dan bayinya yang beriman, Asiyah akhirnya menyatakan keimanannya kepada Allah di hadapan Firaun.
  5. Asiyah disiksa dan dipasrahkan ke tanah di padang pasir oleh Firaun, namun ia tetap tersenyum dan memohon kepada Allah, yang memperlihatkan istana di surga sebelum ia wafat.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Takdir bekerja dengan cara yang tidak terduga. Anak yang dibesarkan di tengah istana kezaliman, justru kelak menjadi senjata Allah untuk meruntuhkan kezaliman itu sendiri.

Tahun berlalu. Musa tumbuh, kemudian terpaksa meninggalkan Mesir, melarikan diri setelah sebuah peristiwa fatal. Ia menyeberangi gurun selama delapan hari menuju Madyan, tanpa makanan dan tanpa kepastian. Asiyah melepasnya dengan hati yang hancur namun tak bisa berbuat apa-apa.

Dan saat Musa kembali bertahun-tahun kemudian, ia bukan lagi anak angkat yang dulu. Ia datang sebagai utusan Allah, membawa risalah dari Tuhan yang sesungguhnya—bukan Firaun.

Setiap kata yang Musa ucapkan di hadapan Firaun mengguncang hati Asiyah. Kebenaran yang selama ini ia cari dalam senyap, kini berdiri di depan matanya dengan terang. Perlahan-lahan, keyakinan itu tumbuh dan mengakar.



Follow Widget