RINGKASAN
- Imam Baidowi, seorang pensiunan TNI, membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan dana pribadinya yang berasal dari pengelolaan sawah, kebun buah, kolam renang, dan kandang burung.
- Masjid ini didirikan di atas lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dibeli Imam Baidowi, dengan desain yang terinspirasi dari suasana Madinah untuk memberikan pengalaman serupa bagi jamaah.
- Untuk menutupi biaya operasional masjid yang tidak sedikit, Imam Baidowi menciptakan ekosistem ekonomi mandiri di sekitarnya, meliputi pertanian, kolam renang, dan aviari yang hasilnya disalurkan untuk masjid.
- Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang mengangkat nilai tanah di sekitarnya, mendorong pertumbuhan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.
- Imam Baidowi menekankan pentingnya keikhlasan, kemandirian, dan keseimbangan antara urusan ibadah dan dunia, serta berpesan kepada generasi muda untuk tidak malu berusaha dan tidak mudah mengeluh.
Ada filosofi sederhana yang selalu ia pegang: keseimbangan antara ibadah dan urusan dunia. Ia tidak menggunakan perhitungan matematis yang rumit. Ia menggunakan naluri—saat ada rezeki, sisihkan untuk ibadah, untuk keluarga, untuk makan hari ini, dan untuk para pegawai yang bekerja bersamanya.
“Saya pakai insting,” katanya sambil tertawa. “Lima tambah lima bisa jadi sebelas, Mas. Jadi saya tidak pakai hitungan itu.”
Dengan cara itu, ia mengurus hampir 88 orang yang sehari-hari bekerja di area masjid—penjaga kandang, petani sawah, pengelola kolam renang, dan lainnya. Semuanya mendapat honorarium. Tidak ada yang kerja sukarela tanpa kompensasi di sini.
Yang menarik, keberadaan masjid ini juga mengangkat nilai tanah di sekitarnya. Kawasan yang dulu orang enggan lewat karena bau sampah dan dekat pemakaman, kini menjadi destinasi. Harga tanah di sekelilingnya naik hingga sepuluh kali lipat. UMKM tumbuh di sekitar masjid. Para pedagang berjualan, pengunjung datang, ekonomi berputar.
Imam Baidowi menyebut ini sebagai ekonomi kreatif yang tumbuh dari kehadiran masjid. Ia tidak hanya membangun tempat ibadah—ia membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang mengangkat harkat warga sekitarnya.

Tinggalkan Balasan