RINGKASAN
- Imam Baidowi, seorang pensiunan TNI, membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan dana pribadinya yang berasal dari pengelolaan sawah, kebun buah, kolam renang, dan kandang burung.
- Masjid ini didirikan di atas lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dibeli Imam Baidowi, dengan desain yang terinspirasi dari suasana Madinah untuk memberikan pengalaman serupa bagi jamaah.
- Untuk menutupi biaya operasional masjid yang tidak sedikit, Imam Baidowi menciptakan ekosistem ekonomi mandiri di sekitarnya, meliputi pertanian, kolam renang, dan aviari yang hasilnya disalurkan untuk masjid.
- Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang mengangkat nilai tanah di sekitarnya, mendorong pertumbuhan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.
- Imam Baidowi menekankan pentingnya keikhlasan, kemandirian, dan keseimbangan antara urusan ibadah dan dunia, serta berpesan kepada generasi muda untuk tidak malu berusaha dan tidak mudah mengeluh.
Hebatnya, ia juga membuka akses gratis bagi rombongan sekolah yang ingin belajar mengenal satwa di aviari. Para guru membawa murid-muridnya, dan Imam Baidowi tidak pernah menghitung berapa yang masuk gratis. Yang penting, anak-anak bisa belajar, bisa dekat dengan alam, dan bisa mengenal masjid sejak dini.
Di balik semua kerja keras ini, berdiri seorang perempuan tangguh: Hajah Yayu Ismunah, istri Imam Baidowi. Selama 32 tahun pernikahan mereka, ia selalu ada—menemani saat suaminya masih aktif bertugas, ikut dalam berbagai kegiatan organisasi, dan kini menjadi tulang punggung pengelolaan dapur masjid setiap Jumat. Ia yang memasak sendiri untuk ratusan jamaah karena memesan dari luar tidak cukup secara ekonomi.
“Kita harus saling menerima dan mendukung,” ujar Yayu. “Ini untuk kelangsungan semuanya.”
Anak-anak mereka pun mendukung sepenuhnya. Anak pertama menjadi dokter di Surabaya, sang istri pun dokter. Anak kedua berkarier di dunia seni di Jakarta. Meski jauh, mereka selalu terhubung melalui video call, selalu tahu apa yang sedang dibangun orang tua mereka, dan tidak pernah protes.
Imam Baidowi percaya bahwa fondasi keluarga yang kuat dimulai dari pendidikan agama sejak dini. Sejak kecil, anak-anaknya ia sekolahkan di pesantren. Hasilnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tahu arah, tahu batas, dan tidak melupakan ibadah di tengah kesibukan dunia.

Tinggalkan Balasan