RINGKASAN

  1. Imam Baidowi, seorang pensiunan TNI, membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan dana pribadinya yang berasal dari pengelolaan sawah, kebun buah, kolam renang, dan kandang burung.
  2. Masjid ini didirikan di atas lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dibeli Imam Baidowi, dengan desain yang terinspirasi dari suasana Madinah untuk memberikan pengalaman serupa bagi jamaah.
  3. Untuk menutupi biaya operasional masjid yang tidak sedikit, Imam Baidowi menciptakan ekosistem ekonomi mandiri di sekitarnya, meliputi pertanian, kolam renang, dan aviari yang hasilnya disalurkan untuk masjid.
  4. Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang mengangkat nilai tanah di sekitarnya, mendorong pertumbuhan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.
  5. Imam Baidowi menekankan pentingnya keikhlasan, kemandirian, dan keseimbangan antara urusan ibadah dan dunia, serta berpesan kepada generasi muda untuk tidak malu berusaha dan tidak mudah mengeluh.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Mimpi itu lahir dari kerinduan. Kerinduan terhadap Mekah, terhadap Madinah, terhadap Rasulullah. Dan dari kerinduan itulah sebuah masjid berdiri megah di atas bekas tumpukan sampah.

Tantangan terbesar bukan soal pembangunan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana masjid itu bisa hidup dan terus beroperasi setelah berdiri. Imam Baidowi sadar bahwa masjid butuh biaya operasional yang tidak kecil. Lebih dari 50 karyawan bekerja di sana, semuanya perlu honorarium. Kebersihan, perawatan, makan para penjaga—semua butuh dana.

Solusinya tidak datang dari kotak amal atau sumbangan. Imam Baidowi memilih membangun ekosistem ekonomi mandiri di sekeliling masjid. Ia menanam jeruk, durian, cabai, jagung, dan talas di lahan sekitar masjid. Hasil panennya dijual, hasilnya masuk kas masjid. Ia membangun kolam renang yang terbuka untuk umum. Ia mendirikan kandang burung atau aviari berisi lebih dari 22 jenis burung—termasuk rangkong, elang, kasuari, hingga merak—yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Dari tiket masuk, dari penjualan jus markisa, dari penjualan madu murni Kaliandra yang ia ternak sendiri di lereng Gunung Kelotok—semua aliran pendapatan itu bermuara pada satu tujuan: menghidupi dan memuliakan masjid.

“Kalau mengandalkan dari orang lain, tidak ada,” katanya. “Jadi kita harus ulet, mandiri.”



Follow Widget