RINGKASAN
- Suhaib bin Sinan Ar-Rumi, lahir dari keluarga terpandang di Irak Utara, mengalami masa kecil yang tragis saat diculik tentara Romawi, dijual sebagai budak, dan tumbuh di tanah asing tanpa kebebasan.
- Setelah mendapatkan kebebasan, Suhaib membangun kembali hidupnya dengan berdagang di Mekah, menjadi salah satu pedagang yang disegani berkat ketekunan dan kemampuannya.
- Suhaib tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad tentang keesaan Allah dan memutuskan untuk memeluk Islam secara diam-diam, yang kemudian membuatnya menghadapi cemoohan dan siksaan dari kaum Quraisy.
- Saat diperintahkan hijrah ke Madinah, Suhaib dihadang kaum Quraisy dan sebagai gantinya ia menyerahkan seluruh hartanya demi mendapatkan kebebasan untuk bergabung dengan Nabi, sebuah pengorbanan yang disebut Nabi sebagai 'jual beli yang beruntung'.
- Menjelang wafatnya, Khalifah Umar bin Khattab menunjuk Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama pemilihan khalifah baru, menunjukkan tingginya kepercayaan yang diberikan kepadanya.
FAQ
Siapa sebenarnya Suhaib Ar-Rumi dan mengapa ia mendapat julukan “Ar-Rumi”? Suhaib bin Sinan adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang lahir di Irak Utara dari keluarga terpandang. Julukan “Ar-Rumi” melekat padanya karena ia ditawan oleh pasukan Romawi sejak kecil dan tumbuh di lingkungan Romawi, sehingga fasih berbicara bahasa dan budaya mereka seperti penduduk asli.
Apa yang dimaksud dengan pengorbanan Suhaib saat hijrah ke Madinah? Ketika hendak berhijrah, Suhaib dihadang kaum Quraisy yang tidak mau melepaskannya begitu saja. Ia kemudian menawarkan untuk menyerahkan seluruh hartanya sebagai syarat kebebasannya pergi ke Madinah. Nabi Muhammad menyebut tindakan ini sebagai “jual beli yang beruntung” karena Suhaib menukar harta dunia demi ridha Allah.
Apa peran Suhaib Ar-Rumi menjelang wafatnya Umar bin Khattab? Sebelum wafat, Khalifah Umar bin Khattab memberikan amanah kepada Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama proses pemilihan khalifah baru berlangsung. Kepercayaan ini mencerminkan betapa tingginya kedudukan Suhaib di mata para sahabat.

Tinggalkan Balasan