RINGKASAN

  1. Suhaib bin Sinan Ar-Rumi, lahir dari keluarga terpandang di Irak Utara, mengalami masa kecil yang tragis saat diculik tentara Romawi, dijual sebagai budak, dan tumbuh di tanah asing tanpa kebebasan.
  2. Setelah mendapatkan kebebasan, Suhaib membangun kembali hidupnya dengan berdagang di Mekah, menjadi salah satu pedagang yang disegani berkat ketekunan dan kemampuannya.
  3. Suhaib tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad tentang keesaan Allah dan memutuskan untuk memeluk Islam secara diam-diam, yang kemudian membuatnya menghadapi cemoohan dan siksaan dari kaum Quraisy.
  4. Saat diperintahkan hijrah ke Madinah, Suhaib dihadang kaum Quraisy dan sebagai gantinya ia menyerahkan seluruh hartanya demi mendapatkan kebebasan untuk bergabung dengan Nabi, sebuah pengorbanan yang disebut Nabi sebagai 'jual beli yang beruntung'.
  5. Menjelang wafatnya, Khalifah Umar bin Khattab menunjuk Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama pemilihan khalifah baru, menunjukkan tingginya kepercayaan yang diberikan kepadanya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Malam itu langit Mekah gelap. Suhaib berjalan hati-hati di antara gang-gang sempit, was-was dengan pandangan mata yang mungkin mengawasinya. Sesampainya di depan pintu rumah itu, ia sempat ragu. Tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya mengetuk. Seorang sahabat membuka pintu dan menatapnya dengan waspada. Suhaib memperkenalkan diri dan menyatakan niatnya ingin mendengar langsung ajaran yang disampaikan sang Nabi.

Di dalam ruangan itu, setiap kata Nabi Muhammad terasa seperti air yang meresap ke tanah kering. Suhaib merasa sesuatu yang selama ini ia cari tanpa menyadarinya akhirnya hadir di hadapannya. Tanpa ragu panjang, ia mengucapkan syahadat. Suhaib bin Sinan resmi menjadi Muslim.

Namun keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.

Kaum Quraisy yang mengetahui keislaman Suhaib langsung bereaksi keras. Mereka mencemooh, menyiksa, bahkan mengancam usahanya yang sudah susah payah ia bangun. Bagi mereka, Suhaib adalah orang asing yang tidak punya hak untuk membela agama baru ini. Tapi Suhaib tidak goyah. Setiap cercaan ia hadapi dengan diam yang kokoh. Setiap siksaan ia jalani dengan keyakinan bahwa Allah bersamanya.

Ujian terbesar datang ketika Nabi Muhammad memerintahkan hijrah ke Madinah. Suhaib memutuskan untuk pergi, tapi kaum Quraisy menghadangnya. Mereka tidak rela membiarkan seorang pedagang kaya berhijrah begitu saja. Dengan amarah yang terpancar dari wajah mereka, para pemuka Quraisy mengepung Suhaib di tengah jalan.



Follow Widget