RINGKASAN
- Suhaib bin Sinan Ar-Rumi, lahir dari keluarga terpandang di Irak Utara, mengalami masa kecil yang tragis saat diculik tentara Romawi, dijual sebagai budak, dan tumbuh di tanah asing tanpa kebebasan.
- Setelah mendapatkan kebebasan, Suhaib membangun kembali hidupnya dengan berdagang di Mekah, menjadi salah satu pedagang yang disegani berkat ketekunan dan kemampuannya.
- Suhaib tertarik dengan ajaran Nabi Muhammad tentang keesaan Allah dan memutuskan untuk memeluk Islam secara diam-diam, yang kemudian membuatnya menghadapi cemoohan dan siksaan dari kaum Quraisy.
- Saat diperintahkan hijrah ke Madinah, Suhaib dihadang kaum Quraisy dan sebagai gantinya ia menyerahkan seluruh hartanya demi mendapatkan kebebasan untuk bergabung dengan Nabi, sebuah pengorbanan yang disebut Nabi sebagai 'jual beli yang beruntung'.
- Menjelang wafatnya, Khalifah Umar bin Khattab menunjuk Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama pemilihan khalifah baru, menunjukkan tingginya kepercayaan yang diberikan kepadanya.
PUNGGAWAJAZIRAH – Tidak banyak manusia dalam sejarah Islam yang perjalanan hidupnya segetir sekaligus semulia Suhaib bin Sinan Ar-Rumi. Lahir dari keluarga terpandang di wilayah Irak Utara, ia dirampas masa kecilnya oleh tentara Romawi, dijual sebagai budak, lalu tumbuh di tanah asing tanpa keluarga dan tanpa kebebasan. Namun dari titik terendah itulah sebuah kisah luar biasa bermula.
Suhaib kecil tak punya pilihan selain bertahan. Ia belajar bahasa Romawi, menyerap budaya mereka, hingga fasih berbicara seperti penduduk asli. Di sinilah asal julukan “Ar-Rumi” melekat padanya, sang lelaki yang terasa seperti orang Romawi. Bertahun-tahun ia hidup dalam status budak, menanggung beban yang tak semestinya ia pikul sejak kecil.
Namun takdir memiliki rencananya sendiri. Suhaib akhirnya mendapatkan kebebasan. Dengan ketekunan dan kemampuan berdagang yang terasah selama bertahun-tahun, ia membangun usaha dari nol di Mekah. Sedikit demi sedikit, ia menjadi salah satu pedagang yang disegani. Kehidupan duniawi yang dulu dirampas darinya perlahan ia rebut kembali dengan kerja kerasnya sendiri.
Lalu datanglah angin yang mengubah segalanya.
Di Mekah, sayup-sayup terdengar kabar tentang seorang lelaki bernama Muhammad yang menyampaikan ajaran baru, berbicara tentang keesaan Allah, keadilan, kasih sayang, dan pembebasan dari kebodohan jahiliah. Suhaib yang penasaran mencari tahu. Ia mendengar bahwa dakwah itu dilakukan secara rahasia di rumah Arqam bin Abi Arqam. Dengan hati berdebar ia pergi ke sana.
Malam itu langit Mekah gelap. Suhaib berjalan hati-hati di antara gang-gang sempit, was-was dengan pandangan mata yang mungkin mengawasinya. Sesampainya di depan pintu rumah itu, ia sempat ragu. Tangannya terhenti di udara sebelum akhirnya mengetuk. Seorang sahabat membuka pintu dan menatapnya dengan waspada. Suhaib memperkenalkan diri dan menyatakan niatnya ingin mendengar langsung ajaran yang disampaikan sang Nabi.
Di dalam ruangan itu, setiap kata Nabi Muhammad terasa seperti air yang meresap ke tanah kering. Suhaib merasa sesuatu yang selama ini ia cari tanpa menyadarinya akhirnya hadir di hadapannya. Tanpa ragu panjang, ia mengucapkan syahadat. Suhaib bin Sinan resmi menjadi Muslim.
Namun keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.
Kaum Quraisy yang mengetahui keislaman Suhaib langsung bereaksi keras. Mereka mencemooh, menyiksa, bahkan mengancam usahanya yang sudah susah payah ia bangun. Bagi mereka, Suhaib adalah orang asing yang tidak punya hak untuk membela agama baru ini. Tapi Suhaib tidak goyah. Setiap cercaan ia hadapi dengan diam yang kokoh. Setiap siksaan ia jalani dengan keyakinan bahwa Allah bersamanya.
Ujian terbesar datang ketika Nabi Muhammad memerintahkan hijrah ke Madinah. Suhaib memutuskan untuk pergi, tapi kaum Quraisy menghadangnya. Mereka tidak rela membiarkan seorang pedagang kaya berhijrah begitu saja. Dengan amarah yang terpancar dari wajah mereka, para pemuka Quraisy mengepung Suhaib di tengah jalan.
Suhaib tahu ini akan terjadi. Ia sudah siap.
Di hadapan orang-orang yang menghalanginya, Suhaib menawarkan sesuatu yang mengejutkan. Ia rela menyerahkan seluruh hartanya, semua kekayaan yang ia kumpulkan bertahun-tahun, asal diberi kebebasan untuk pergi bergabung bersama Nabi di Madinah. Bagi kaum Quraisy, ini tawaran yang sulit ditolak. Mereka setuju. Suhaib meninggalkan segalanya dan berjalan sendirian menuju Madinah, tanpa harta, hanya dengan iman yang penuh di dadanya.
Ketika Nabi Muhammad mendengar kabar ini dan menyambut kedatangan Suhaib, beliau tersenyum hangat dan mengucapkan kata-kata yang kelak menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Islam awal. “Beruntunglah jual belimu, wahai Abu Yahya,” kata Nabi. Sebuah kalimat yang mengandung makna mendalam: pengorbanan Suhaib bukan kerugian, melainkan transaksi terbaik yang pernah ada, antara harta dunia yang fana dengan ridha Allah yang abadi.
Kehidupan Suhaib di Madinah mencerminkan karakter yang sesungguhnya. Ia dikenal sebagai sahabat yang jujur, sabar, penuh kasih sayang, dan teguh dalam keimanannya. Ia bukan orang yang lahir di lingkungan Arab, bukan pula dari keturunan suku terpandang Mekah. Namun kepribadiannya menembus semua batas itu.
Kepercayaan umat terhadap Suhaib mencapai puncaknya menjelang akhir hayat Umar bin Khattab, Khalifah kedua Islam. Umar yang terluka parah akibat tikaman memanggil Suhaib ke sisinya. Dengan suara yang melemah namun tatapan yang tetap tegas, Umar memberikan amanah luar biasa kepada sahabatnya itu: menjadi imam shalat bagi kaum muslimin dan menjaga kestabilan umat selama proses pemilihan khalifah baru berlangsung.
Suhaib menolak dengan rendah hati, merasa dirinya tidak layak. “Ada banyak sahabat yang lebih utama dariku,” katanya. Tapi Umar menggeleng. Baginya, bukan soal siapa yang lebih utama. Ini soal kepercayaan. Dan kepercayaan itu ia letakkan sepenuhnya di pundak Suhaib Ar-Rumi.
Dengan hati yang berat namun penuh tanggung jawab, Suhaib menerima amanah itu. Ia memimpin shalat, menjaga ketenangan umat di masa transisi yang penuh ketidakpastian, hingga Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah baru. Ketika tugas itu selesai, Suhaib menyambutnya dengan lega dan rasa syukur yang tulus.
Suhaib bin Sinan Ar-Rumi wafat pada tahun 38 Hijriah atau sekitar 658 Masehi di Madinah. Ia pergi dengan wajah yang tampak damai, seolah telah bertemu dengan sesuatu yang jauh lebih indah dari apa yang pernah ia bayangkan di dunia ini. Para sahabat yang menguburkannya duduk mengenang perjalanan hidupnya, dari anak kecil yang ditawan pasukan Romawi hingga menjadi salah satu pilar kepercayaan di jantung komunitas Muslim pertama.
Kisah Suhaib Ar-Rumi bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin tentang apa yang bisa dicapai manusia ketika iman menjadi kompas utama hidupnya. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh asal usul, harta, atau status sosial, melainkan oleh ketulusan hati dan keteguhan dalam menempuh jalan yang diyakini kebenarannya.
Dari seorang budak yang terasing hingga menjadi kepercayaan seorang khalifah, Suhaib Ar-Rumi telah meninggalkan pelajaran yang tak lekang oleh waktu: bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak pernah sia-sia.
FAQ
Siapa sebenarnya Suhaib Ar-Rumi dan mengapa ia mendapat julukan “Ar-Rumi”? Suhaib bin Sinan adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang lahir di Irak Utara dari keluarga terpandang. Julukan “Ar-Rumi” melekat padanya karena ia ditawan oleh pasukan Romawi sejak kecil dan tumbuh di lingkungan Romawi, sehingga fasih berbicara bahasa dan budaya mereka seperti penduduk asli.
Apa yang dimaksud dengan pengorbanan Suhaib saat hijrah ke Madinah? Ketika hendak berhijrah, Suhaib dihadang kaum Quraisy yang tidak mau melepaskannya begitu saja. Ia kemudian menawarkan untuk menyerahkan seluruh hartanya sebagai syarat kebebasannya pergi ke Madinah. Nabi Muhammad menyebut tindakan ini sebagai “jual beli yang beruntung” karena Suhaib menukar harta dunia demi ridha Allah.
Apa peran Suhaib Ar-Rumi menjelang wafatnya Umar bin Khattab? Sebelum wafat, Khalifah Umar bin Khattab memberikan amanah kepada Suhaib untuk menjadi imam shalat dan menjaga kestabilan umat Islam selama proses pemilihan khalifah baru berlangsung. Kepercayaan ini mencerminkan betapa tingginya kedudukan Suhaib di mata para sahabat.

Tinggalkan Balasan