RINGKASAN

  1. Umar bin Khattab, dikenal keras dan tegas, memimpin dengan prinsip kepemimpinan sebagai amanah, bukan kemuliaan, dan sering merenungkan cara memerintah tanpa menzalimi.
  2. Untuk mencegah keserakahan dan kesombongan pejabat, Umar membangun sistem administrasi negara (diwan) dan menetapkan bahwa gubernur harus hidup sederhana serta siap dipanggil kapan saja.
  3. Umar bin Khattab berani menanggalkan jabatan panglima perang Khalid bin Walid demi menegaskan bahwa kemenangan adalah dari Allah, bukan dari manusia, menunjukkan keadilan yang berani menentang popularitas.
  4. Ia membuka pintu kritik seluas-luasnya, bahkan mengakui kekeliruan di depan umum jika memang salah, dan turun langsung ke jalan pada malam hari untuk memastikan keadilan bagi rakyat lemah.
  5. Umar bin Khattab menunjukkan penegakan hukum yang luar biasa, seperti memberi hak pembalasan kepada pemuda Koptik atas putra gubernur Mesir, menangguhkan hukuman pencurian saat kemarau panjang, dan selalu mengkhawatirkan keadilan hingga akhir hayatnya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Umar juga sengaja membuka pintu kritik. Dalam khotbah-khotbahnya, ia mengundang pertanyaan terbuka: jika ia menyimpang, apa yang akan rakyat lakukan? Ketika seorang lelaki bangkit dan berkata tanpa gentar bahwa mereka akan meluruskannya dengan pedang, Umar tidak murka. Ia justru bersyukur karena masih ada rakyat yang berani menegur penguasanya.

Keterbukaan ini bukan tanpa ketegangan. Ada yang kasar, ada yang emosional, bahkan ada yang menuduh. Umar menerima semuanya. Ia tahu ketika rakyat diam, itulah pertanda bahaya. Bahkan ketika seorang perempuan menegurnya di hadapan umum soal kebijakan mahar dan mengutip ayat Al-Qur’an, Umar terdiam. Lalu ia mengakui di depan semua orang: perempuan itu benar, dan ia salah. Penguasa tertinggi mengakui kekeliruan tanpa paksaan.

Sementara siang harinya dipenuhi rapat dan keputusan hukum, malam hari Umar pergunakan untuk menyusuri lorong-lorong gelap Madinah sendirian, tanpa pengawal, tanpa utusan. Ia ingin melihat dengan matanya sendiri apakah keadilan yang ia cita-citakan benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling lemah.

Suatu malam ia mendengar tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Dari balik dinding tipis, ia melihat seorang ibu menjerang air dan batu, pura-pura memasak agar anak-anaknya tertidur dengan harapan. Mereka kelaparan. Umar terpaku. Seluruh wilayah luas yang ia pimpin terasa tak berarti ketika satu keluarga kelaparan di jantung Madinah.



Follow Widget