RINGKASAN

  1. Umar bin Khattab, dikenal keras dan tegas, memimpin dengan prinsip kepemimpinan sebagai amanah, bukan kemuliaan, dan sering merenungkan cara memerintah tanpa menzalimi.
  2. Untuk mencegah keserakahan dan kesombongan pejabat, Umar membangun sistem administrasi negara (diwan) dan menetapkan bahwa gubernur harus hidup sederhana serta siap dipanggil kapan saja.
  3. Umar bin Khattab berani menanggalkan jabatan panglima perang Khalid bin Walid demi menegaskan bahwa kemenangan adalah dari Allah, bukan dari manusia, menunjukkan keadilan yang berani menentang popularitas.
  4. Ia membuka pintu kritik seluas-luasnya, bahkan mengakui kekeliruan di depan umum jika memang salah, dan turun langsung ke jalan pada malam hari untuk memastikan keadilan bagi rakyat lemah.
  5. Umar bin Khattab menunjukkan penegakan hukum yang luar biasa, seperti memberi hak pembalasan kepada pemuda Koptik atas putra gubernur Mesir, menangguhkan hukuman pencurian saat kemarau panjang, dan selalu mengkhawatirkan keadilan hingga akhir hayatnya.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Ia berlari ke Baitul Mal, mengambil sendiri gandum dan minyak, lalu memikul karung itu di punggungnya. Ketika seseorang menawarkan bantuan, Umar menjawab: “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?” Malam itu ia memasak sendiri, menunggu hingga anak-anak itu tertawa dan kenyang, lalu pergi dengan air mata yang tak terlihat siapapun.

Peristiwa di Mesir menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam penegakan hukumnya. Seorang pemuda Koptik datang ke Madinah dengan luka dan amarah: ia dipukul oleh putra Gubernur Amr bin Ash setelah kalah dalam perlombaan, dengan alasan bahwa ia anak orang terpandang. Umar memanggil Amr bin Ash beserta putranya ke Madinah. Di hadapan khalifah dan para sahabat, pemuda itu diberi hak untuk membalas. Kemudian Umar menoleh kepada Amr dan mengucapkan kalimat yang mengguncang sejarah: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia? Padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka.”

Tahun 639 Masehi membawa ujian berbeda: kemarau panjang yang mengeringkan Jazirah Arab. Tahun itu dikenal sebagai Amur Ramadah, tahun abu, karena bumi seolah terbakar dan tak lagi memberi kehidupan. Umar mengambil keputusan yang mengejutkan: ia menangguhkan hukuman bagi pencurian karena kelaparan. Baginya, menghukum orang yang mencuri karena lapar adalah kezaliman yang dibungkus legalitas. Ia juga mengubah gaya hidupnya secara ekstrem, menolak makan daging dan makanan mewah hingga wajahnya menghitam dan tubuhnya kurus. Setiap kali perutnya bergejolak, ia menegur dirinya sendiri: rasakanlah, wahai Umar, hingga rakyatmu kenyang.



Follow Widget