RINGKASAN
- Zubair bin Awwam, sepupu Rasulullah, adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dikenal sebagai hawari sejati.
- Meskipun masih remaja, Zubair termasuk generasi awal pemeluk Islam (as-sabiqunal awwalun) dan menunjukkan keteguhan luar biasa saat disiksa pamannya agar kembali ke agama nenek moyang.
- Keberanian Zubair terbukti saat ia menjadi orang pertama yang menghunus pedang demi membela Islam dan menjadi perisai hidup Nabi Muhammad SAW dalam Perang Uhud, di mana ia dijuluki 'hawari' oleh Nabi.
- Ia juga menunjukkan kecerdasan dan keberanian dalam misi pengintaian berbahaya di Perang Khandak, serta memegang panji kaum Muhajirin saat Penaklukan Mekah.
- Dalam Perang Jamal, Zubair memilih mundur setelah teringat peringatan Nabi dan dibunuh secara licik, namun wafatnya tetap diakui sebagai kesyahidan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib.
PUNGGAWAJAZIRAH – Pedang pertama yang terhunus demi membela Islam bukan milik seorang panglima tua yang telah kenyang pengalaman perang. Ia adalah milik seorang remaja tanggung berusia belasan tahun, yang berlari dengan napas terengah-engah menyusuri jalanan Mekah demi memastikan keselamatan sang Nabi. Itulah Zubair bin Awwam, sepupu Rasulullah, hawari sejati, dan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Lahir di lingkungan terhormat kabilah Quraisy, Zubair memiliki garis keturunan yang begitu dekat dengan lingkaran inti Islam. Nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Qusyai bin Kilab. Ibundanya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, adalah bibi kandung Nabi. Sementara ayahnya, Al-Awwam bin Khuwailid, adalah saudara laki-laki Khadijah, istri pertama Rasulullah. Dari dua arah sekaligus, darah Zubair mengalir begitu dekat dengan jantung Islam.
Masa kecilnya ditempa oleh tangan keras namun penuh kasih dari sang ibu. Shafiyyah bukan perempuan biasa. Ia mendidik Zubair dengan disiplin yang tegas, bahkan ketika pamannya menegurnya karena dianggap terlalu keras memukul anak yatim itu, Shafiyyah menjawab tanpa ragu: ia memukul anaknya agar kelak menjadi pemimpin pasukan yang gagah berani. Dan prediksi itu terbukti.
Ketika seruan tauhid mulai menggema di lembah Mekah, Zubair baru berusia sekitar 15 atau 16 tahun. Melalui tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq, hatinya tersentuh cahaya kebenaran. Tanpa menunggu lama, ia menyatakan keislamannya dan masuk dalam golongan as-sabiqunal awwalun, generasi pertama pemeluk Islam. Sebuah kehormatan yang tak ternilai.
Konsekuensi dari pilihan itu datang cepat. Pamannya yang keras dan bengis murka besar. Zubair muda diikat, digulung dalam tikar pandan, lalu diasapi dari bawah dengan api yang menyala hingga ia hampir tak bisa bernapas. Di tengah siksaan yang menyiksa itu, sang paman terus membujuknya agar kembali kepada agama nenek moyang. Namun dari bibir pemuda yang meregang kesakitan itu, keluar jawaban yang menggetarkan: “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan pernah kembali kepada kekufuran selamanya.”
Keberanian bukan sekadar slogan bagi Zubair. Ia adalah naluri. Suatu hari tersiar kabar bahwa Rasulullah telah ditangkap atau bahkan dibunuh oleh kaum musyrikin. Tanpa pikir panjang, Zubair menyambar pedangnya dan berlari menyusuri jalanan Mekah. Ketika akhirnya ia menemukan Rasulullah dalam keadaan selamat, Nabi tersenyum dan mendoakan kebaikan untuk pemuda ini beserta pedangnya. Peristiwa itulah yang menandai terhunus pertama kali sebilah pedang demi membela Islam.
Di Madinah, semangat Zubair semakin membara. Pada Perang Badar, ia tampil sebagai komandan kavaleri pasukan muslimin yang mengenakan serban kuning mencolok di kepalanya. Salah satu momen paling heroik adalah duelnya melawan Ubaidah bin Said bin Al-As, jagoan Quraisy yang seluruh tubuhnya tertutup baju besi. Hanya celah sempit di bagian mata yang terlihat. Dengan sekali tusukan tombak yang sangat akurat, Zubair mengakhiri hidup sang jagoan. Tombak itu tertancap begitu dalam hingga bengkok saat dicabut, dan Rasulullah memintanya sebagai kenang-kenangan.
Perang Uhud menguji ketangguhannya lebih berat lagi. Ketika barisan kaum muslimin porak-poranda dan Rasulullah sendiri terluka, Zubair menjadi salah satu perisai hidup bagi sang Nabi. Ia bertarung mati-matian, menerima puluhan luka sabetan pedang dan tusukan tombak. Salah satu lukanya begitu dalam di bahu hingga bertahun-tahun kemudian putranya, Urwah, masih bisa memasukkan jari ke bekas luka itu. Di sinilah Rasulullah mengucapkan sabda yang abadi: “Setiap nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah Zubair bin Awwam.”
Ujian terberat berikutnya hadir dalam Perang Khandak. Ketika 10.000 pasukan koalisi mengepung Madinah dari segala penjuru, Rasulullah membutuhkan seorang pemberani untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh. Beliau bertanya kepada para sahabatnya, menjanjikan persahabatan di surga bagi siapa yang mau menjalankan misi berbahaya itu. Suasana hening. Lalu satu suara terdengar: “Saya, wahai Rasulullah.” Itu suara Zubair. Tiga kali Rasulullah bertanya, tiga kali pula hanya Zubair yang menjawab.
Zubair menyusup ke perkemahan musuh di malam yang gelap dan dingin. Dengan kecerdasan dan kehati-hatian seorang prajurit ulung, ia mengumpulkan informasi vital bahwa pasukan koalisi mulai goyah, perbekalan menipis, dan perselisihan mulai merongrong mereka dari dalam. Informasi itu menjadi pijakan penting bagi Rasulullah dalam mengambil langkah berikutnya.
Kepahlawanannya berlanjut hingga Penaklukan Mekah pada tahun ke-8 Hijriah. Rasulullah menunjuk Zubair sebagai pemegang panji kaum Muhajirin, sebuah kehormatan yang mencerminkan betapa tingginya kepercayaan Nabi kepadanya. Mekah takluk hampir tanpa pertumpahan darah, dan Zubair turut menjaga ketertiban di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Selepas wafatnya Rasulullah, Zubair tetap menjadi pilar penting di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Ia turut serta dalam berbagai penaklukan besar, termasuk Perang Yarmuk melawan Romawi Bizantium dan pengiriman pasukan ke Mesir. Kekayaannya yang melimpah dari perniagaan dan ghanimah ia gunakan bukan untuk kemewahan pribadi, melainkan untuk bersedekah, membebaskan budak, dan menyokong perjuangan Islam.
Babak terakhir hidupnya diwarnai oleh fitnah besar. Dalam Perang Jamal, ia berada di pihak yang berseberangan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib, bukan karena dengki, melainkan karena ijtihad untuk menuntut keadilan atas terbunuhnya Khalifah Utsman. Namun ketika Ali mengingatkannya akan sebuah sabda Rasulullah yang sudah dilupakan Zubair, yaitu bahwa ia akan suatu hari memerangi Ali dalam keadaan zalim terhadapnya, Zubair tertegun. Wajahnya pucat. Hatinya bergetar. Tanpa ragu ia berkata: “Ya, aku ingat. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu.”
Ia pun menarik diri dari medan perang. Keputusan yang menunjukkan kebesaran jiwa seorang hawari yang lebih takut kepada Allah daripada gengsi manusia. Namun dalam perjalanan meninggalkan kancah itu, Zubair dibunuh secara licik oleh seorang yang mengharapkan imbalan. Ketika kabar itu sampai kepada Ali, sang khalifah mengambil pedang Zubair, menciumnya, dan berkata bahwa pedang itu telah lama membela Rasulullah dari berbagai kesulitan. Lalu dengan nada sedih bercampur marah, Ali menyebut bahwa si pembunuh akan masuk neraka.
Zubair bin Awwam wafat sebagai salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga. Jaminan itu bukan anugerah tanpa sebab. Ia adalah buah dari keimanan yang paling awal, keteguhan di bawah siksaan, keberanian di setiap medan jihad, kedermawanan yang mengalir tanpa henti, dan yang paling menyentuh hati: kesediaan untuk kembali kepada kebenaran meski harus menanggung malu. Kisahnya bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi jiwa-jiwa yang merindukan keridaan Ilahi.
FAQ
Mengapa Zubair bin Awwam mendapat gelar “Hawari Rasulullah”? Gelar hawari, yang berarti pembela setia, diberikan langsung oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada Zubair karena keberanian dan loyalitasnya yang luar biasa, terutama saat ia menjadi satu-satunya yang bersedia menjalankan misi pengintaian berbahaya di Perang Khandak dan saat ia menjadi perisai hidup Nabi di berbagai medan perang.
Apa yang membuat Zubair termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga? Jaminan surga itu merupakan pengakuan atas keseluruhan perjalanan hidupnya: keimanan paling awal, keteguhan menghadapi siksaan di masa muda, keberanian luar biasa di setiap peperangan besar Islam, kedermawanan yang konsisten, serta kesediaan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar bahkan di penghujung hidupnya.
Bagaimana akhir kehidupan Zubair bin Awwam? Zubair wafat dalam peristiwa Perang Jamal setelah memilih mundur dari medan pertempuran karena teringat peringatan Rasulullah. Dalam perjalanan pulang, ia dibunuh secara licik oleh Amr bin Jurmuz. Ketika Ali bin Abi Thalib mendengar kabar ini, ia sangat berduka dan menyatakan bahwa sang pembunuh akan masuk neraka.

Tinggalkan Balasan