RINGKASAN

  1. Zubair bin Awwam, sepupu Rasulullah, adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dikenal sebagai hawari sejati.
  2. Meskipun masih remaja, Zubair termasuk generasi awal pemeluk Islam (as-sabiqunal awwalun) dan menunjukkan keteguhan luar biasa saat disiksa pamannya agar kembali ke agama nenek moyang.
  3. Keberanian Zubair terbukti saat ia menjadi orang pertama yang menghunus pedang demi membela Islam dan menjadi perisai hidup Nabi Muhammad SAW dalam Perang Uhud, di mana ia dijuluki 'hawari' oleh Nabi.
  4. Ia juga menunjukkan kecerdasan dan keberanian dalam misi pengintaian berbahaya di Perang Khandak, serta memegang panji kaum Muhajirin saat Penaklukan Mekah.
  5. Dalam Perang Jamal, Zubair memilih mundur setelah teringat peringatan Nabi dan dibunuh secara licik, namun wafatnya tetap diakui sebagai kesyahidan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Perang Uhud menguji ketangguhannya lebih berat lagi. Ketika barisan kaum muslimin porak-poranda dan Rasulullah sendiri terluka, Zubair menjadi salah satu perisai hidup bagi sang Nabi. Ia bertarung mati-matian, menerima puluhan luka sabetan pedang dan tusukan tombak. Salah satu lukanya begitu dalam di bahu hingga bertahun-tahun kemudian putranya, Urwah, masih bisa memasukkan jari ke bekas luka itu. Di sinilah Rasulullah mengucapkan sabda yang abadi: “Setiap nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah Zubair bin Awwam.”

Ujian terberat berikutnya hadir dalam Perang Khandak. Ketika 10.000 pasukan koalisi mengepung Madinah dari segala penjuru, Rasulullah membutuhkan seorang pemberani untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh. Beliau bertanya kepada para sahabatnya, menjanjikan persahabatan di surga bagi siapa yang mau menjalankan misi berbahaya itu. Suasana hening. Lalu satu suara terdengar: “Saya, wahai Rasulullah.” Itu suara Zubair. Tiga kali Rasulullah bertanya, tiga kali pula hanya Zubair yang menjawab.

Zubair menyusup ke perkemahan musuh di malam yang gelap dan dingin. Dengan kecerdasan dan kehati-hatian seorang prajurit ulung, ia mengumpulkan informasi vital bahwa pasukan koalisi mulai goyah, perbekalan menipis, dan perselisihan mulai merongrong mereka dari dalam. Informasi itu menjadi pijakan penting bagi Rasulullah dalam mengambil langkah berikutnya.

Kepahlawanannya berlanjut hingga Penaklukan Mekah pada tahun ke-8 Hijriah. Rasulullah menunjuk Zubair sebagai pemegang panji kaum Muhajirin, sebuah kehormatan yang mencerminkan betapa tingginya kepercayaan Nabi kepadanya. Mekah takluk hampir tanpa pertumpahan darah, dan Zubair turut menjaga ketertiban di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.



Follow Widget