RINGKASAN
- Imam Baidowi, seorang pensiunan TNI, membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan dana pribadinya yang berasal dari pengelolaan sawah, kebun buah, kolam renang, dan kandang burung.
- Masjid ini didirikan di atas lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dibeli Imam Baidowi, dengan desain yang terinspirasi dari suasana Madinah untuk memberikan pengalaman serupa bagi jamaah.
- Untuk menutupi biaya operasional masjid yang tidak sedikit, Imam Baidowi menciptakan ekosistem ekonomi mandiri di sekitarnya, meliputi pertanian, kolam renang, dan aviari yang hasilnya disalurkan untuk masjid.
- Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi lokal yang mengangkat nilai tanah di sekitarnya, mendorong pertumbuhan UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.
- Imam Baidowi menekankan pentingnya keikhlasan, kemandirian, dan keseimbangan antara urusan ibadah dan dunia, serta berpesan kepada generasi muda untuk tidak malu berusaha dan tidak mudah mengeluh.
KEDIRI, JAZIRAH – Bukan dari sumbangan pemerintah, bukan dari donatur besar. Imam Baidowi, pensiunan TNI dengan masa dinas 35 tahun, membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan uang pribadinya sendiri—dari hasil sawah, kebun buah, kolam renang, hingga kandang burung yang ia kelola dengan penuh keikhlasan.
Kisah ini bukan sekadar tentang masjid. Ini tentang seorang pria yang memilih menghabiskan sisa hidupnya untuk melayani kampung halamannya sendiri, dengan cara yang tidak biasa, dengan semangat yang tidak pernah padam.
Setelah pensiun dari dinas militer, Imam Baidowi tidak memilih tinggal di kota atau menikmati masa tua dalam kesenangan. Ia justru kembali ke desa kelahirannya di Parai Kediri dan langsung tancap gas. Jalan beraspal di kampungnya yang belum ada, ia bangun dengan uang sendiri. Makam-makam yang terbengkalai dan tidak terawat, ia rapikan. Musholla dan masjid kecil di sekitar kampungnya, ia dirikan satu per satu.
“Supaya sisa hidup kami bisa berguna bagi masyarakat,” ujarnya dengan nada ringan, seolah semua itu hal yang wajar saja.
Masjid Jami Imam Baidawi berdiri di atas lahan yang dulunya adalah tempat pembuangan sampah. Tidak ada yang mau melirik tanah itu. Imam Baidowi justru membelinya dengan harga murah, membersihkannya, lalu membangun masjid yang ia rancang terinspirasi dari suasana Madinah. Menara, kubah ganda, lampu-lampu di setiap pintu—semua dirancang agar jamaah yang belum pernah ke Tanah Suci bisa merasakan sedikit nuansa Madinah di kampung sendiri.
Mimpi itu lahir dari kerinduan. Kerinduan terhadap Mekah, terhadap Madinah, terhadap Rasulullah. Dan dari kerinduan itulah sebuah masjid berdiri megah di atas bekas tumpukan sampah.
Tantangan terbesar bukan soal pembangunan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana masjid itu bisa hidup dan terus beroperasi setelah berdiri. Imam Baidowi sadar bahwa masjid butuh biaya operasional yang tidak kecil. Lebih dari 50 karyawan bekerja di sana, semuanya perlu honorarium. Kebersihan, perawatan, makan para penjaga—semua butuh dana.
Solusinya tidak datang dari kotak amal atau sumbangan. Imam Baidowi memilih membangun ekosistem ekonomi mandiri di sekeliling masjid. Ia menanam jeruk, durian, cabai, jagung, dan talas di lahan sekitar masjid. Hasil panennya dijual, hasilnya masuk kas masjid. Ia membangun kolam renang yang terbuka untuk umum. Ia mendirikan kandang burung atau aviari berisi lebih dari 22 jenis burung—termasuk rangkong, elang, kasuari, hingga merak—yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Dari tiket masuk, dari penjualan jus markisa, dari penjualan madu murni Kaliandra yang ia ternak sendiri di lereng Gunung Kelotok—semua aliran pendapatan itu bermuara pada satu tujuan: menghidupi dan memuliakan masjid.
“Kalau mengandalkan dari orang lain, tidak ada,” katanya. “Jadi kita harus ulet, mandiri.”
Hebatnya, ia juga membuka akses gratis bagi rombongan sekolah yang ingin belajar mengenal satwa di aviari. Para guru membawa murid-muridnya, dan Imam Baidowi tidak pernah menghitung berapa yang masuk gratis. Yang penting, anak-anak bisa belajar, bisa dekat dengan alam, dan bisa mengenal masjid sejak dini.
Di balik semua kerja keras ini, berdiri seorang perempuan tangguh: Hajah Yayu Ismunah, istri Imam Baidowi. Selama 32 tahun pernikahan mereka, ia selalu ada—menemani saat suaminya masih aktif bertugas, ikut dalam berbagai kegiatan organisasi, dan kini menjadi tulang punggung pengelolaan dapur masjid setiap Jumat. Ia yang memasak sendiri untuk ratusan jamaah karena memesan dari luar tidak cukup secara ekonomi.
“Kita harus saling menerima dan mendukung,” ujar Yayu. “Ini untuk kelangsungan semuanya.”
Anak-anak mereka pun mendukung sepenuhnya. Anak pertama menjadi dokter di Surabaya, sang istri pun dokter. Anak kedua berkarier di dunia seni di Jakarta. Meski jauh, mereka selalu terhubung melalui video call, selalu tahu apa yang sedang dibangun orang tua mereka, dan tidak pernah protes.
Imam Baidowi percaya bahwa fondasi keluarga yang kuat dimulai dari pendidikan agama sejak dini. Sejak kecil, anak-anaknya ia sekolahkan di pesantren. Hasilnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tahu arah, tahu batas, dan tidak melupakan ibadah di tengah kesibukan dunia.
Ada filosofi sederhana yang selalu ia pegang: keseimbangan antara ibadah dan urusan dunia. Ia tidak menggunakan perhitungan matematis yang rumit. Ia menggunakan naluri—saat ada rezeki, sisihkan untuk ibadah, untuk keluarga, untuk makan hari ini, dan untuk para pegawai yang bekerja bersamanya.
“Saya pakai insting,” katanya sambil tertawa. “Lima tambah lima bisa jadi sebelas, Mas. Jadi saya tidak pakai hitungan itu.”
Dengan cara itu, ia mengurus hampir 88 orang yang sehari-hari bekerja di area masjid—penjaga kandang, petani sawah, pengelola kolam renang, dan lainnya. Semuanya mendapat honorarium. Tidak ada yang kerja sukarela tanpa kompensasi di sini.
Yang menarik, keberadaan masjid ini juga mengangkat nilai tanah di sekitarnya. Kawasan yang dulu orang enggan lewat karena bau sampah dan dekat pemakaman, kini menjadi destinasi. Harga tanah di sekelilingnya naik hingga sepuluh kali lipat. UMKM tumbuh di sekitar masjid. Para pedagang berjualan, pengunjung datang, ekonomi berputar.
Imam Baidowi menyebut ini sebagai ekonomi kreatif yang tumbuh dari kehadiran masjid. Ia tidak hanya membangun tempat ibadah—ia membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang mengangkat harkat warga sekitarnya.
Kepada generasi muda, ia menitipkan pesan yang jelas: jangan pernah malu untuk mencoba, jangan mudah tersinggung, jangan terlalu bangga hingga enggan bekerja. Selama itu halal, lakukan. Keikhlasan adalah kuncinya.
“Kalau tidak ikhlas, lama-lama akan mengeluh, frustrasi, dan kecewa,” ujarnya. “Itu bibit penyakit, membuat hati tidak khusyuk.”
Di usia senjanya, Imam Baidowi memilih pensiun bukan untuk beristirahat, melainkan untuk semakin giat melayani. Gajinya dari militer, ia anggap sebagai bekal akhirat. Sawahnya adalah nafasnya. Dan masjid itu adalah warisannya untuk kampung yang ia cintai.
FAQ
Siapa Imam Baidowi dan apa yang ia bangun?
Imam Baidowi adalah pensiunan TNI dengan masa dinas 35 tahun yang membangun Masjid Jami Imam Baidawi di Parai Kediri menggunakan dana pribadi, termasuk jalan beraspal, makam, musholla, hingga masjid megah berarsitektur khas Madinah.
Dari mana sumber dana untuk membiayai operasional masjid?
Imam Baidowi membiayai operasional masjid secara mandiri melalui hasil sawah, kebun buah, kolam renang, aviari atau kandang burung, serta penjualan madu murni. Tidak ada bantuan dari pemerintah maupun donatur institusional.
Apa pesan Imam Baidowi untuk generasi muda?
Ia berpesan agar generasi muda tidak mudah menyerah, tidak malu untuk berusaha, dan selalu menjaga keseimbangan antara ibadah dan kehidupan dunia. Keikhlasan, menurutnya, adalah kunci dari segala keberhasilan.

Tinggalkan Balasan