RINGKASAN
- Uwais Al-Qarni adalah seorang pengembala miskin dari Yaman yang hidupnya penuh kesederhanaan dan penyakit vitiligo, namun memiliki bakti luar biasa kepada ibunya.
- Meskipun tidak pernah bertemu Nabi Muhammad SAW secara langsung, Uwais diakui oleh Nabi sebagai seorang yang mulia karena baktinya yang tulus.
- Uwais rela berjuang keras dan menempuh perjalanan jauh untuk mengabulkan keinginan ibunya menunaikan ibadah haji, menunjukkan pengorbanan yang luar biasa.
- Nabi Muhammad SAW berwasiat kepada para sahabatnya, termasuk Umar bin Khattab, untuk memohon doa dari Uwais karena kemuliaannya.
- Uwais Al-Qarni memilih hidup sederhana dan anonim, bahkan menolak kemuliaan yang ditawarkan, dan akhirnya meninggal sebagai syahid dalam Perang Sifin.
Uwais berdiri di ambang pintu rumah Nabi dengan hati yang hancur. Ia ingin menunggu, namun pesan ibunya terngiang keras di kepala. Ia menitipkan salam, lalu membalikkan badan. Pulang ke Yaman tanpa pernah melihat sosok yang paling ia rindukan.
Saat Rasulullah kembali dan mendengar kisah pemuda dari Yaman itu, beliau bersabda kepada para sahabat tentang kemuliaan Uwais. Beliau berpesan agar siapa saja yang kelak bertemu dengannya diminta untuk memohonkan doa ampunan. Sabda itu menjadi wasiat yang terus bergetar di hati para sahabat, khususnya Umar bin Khattab.
Sepeninggal ibunya, Uwais meninggalkan Yaman dan bergabung dengan rombongan menuju Kufah, Irak, berharap bisa hidup anonim. Di sebuah pertemuan bersejarah, Umar bin Khattab yang telah lama mencarinya akhirnya menemukannya di antara rombongan musafir Yaman. Dengan suara bergetar, Umar menceritakan wasiat Nabi tentang dirinya.
Uwais menangis. Penggembala miskin yang dianggap gila oleh satu desa ternyata tak sedetik pun luput dari lisan dan batin manusia paling mulia di muka bumi.

Tinggalkan Balasan