RINGKASAN

  1. Uwais Al-Qarni adalah seorang pengembala miskin dari Yaman yang hidupnya penuh kesederhanaan dan penyakit vitiligo, namun memiliki bakti luar biasa kepada ibunya.
  2. Meskipun tidak pernah bertemu Nabi Muhammad SAW secara langsung, Uwais diakui oleh Nabi sebagai seorang yang mulia karena baktinya yang tulus.
  3. Uwais rela berjuang keras dan menempuh perjalanan jauh untuk mengabulkan keinginan ibunya menunaikan ibadah haji, menunjukkan pengorbanan yang luar biasa.
  4. Nabi Muhammad SAW berwasiat kepada para sahabatnya, termasuk Umar bin Khattab, untuk memohon doa dari Uwais karena kemuliaannya.
  5. Uwais Al-Qarni memilih hidup sederhana dan anonim, bahkan menolak kemuliaan yang ditawarkan, dan akhirnya meninggal sebagai syahid dalam Perang Sifin.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Satu-satunya tempat ia merasa menjadi manusia adalah di gubuk sempit bersama ibunya yang sudah renta dan lemah. Di sanalah ia menjadi segalanya, mata dan kaki bagi perempuan tua yang menjadi alasan ia tetap bertahan.

Sebagai penggembala, Uwais membawa kawanannya jauh ke lembah-lembah sunyi, menjauh dari lidah tajam penduduk desa. Di keheningan itulah ia mendengar kabar tentang seorang nabi di Madinah. Kafilah demi kafilah bercerita tentang Muhammad SAW, sang Al-Amin yang memuliakan kaum lemah dan tidak pernah berdusta.

Tanpa melihat satu pun mukjizat dengan mata kepala sendiri, jiwa Uwais bergetar hebat. Ia memeluk Islam di tengah lembah yang hanya disaksikan oleh langit. Lalu ia bergegas pulang dan mengajarkan kalimat tauhid kepada ibunya, dua jiwa yang selama ini terbuang oleh dunia kini dipersatukan oleh cahaya yang sama.

Ketika ibunya yang semakin renta menyampaikan keinginan terakhirnya untuk pergi ke Baitullah, Uwais tidak berkata tidak mungkin. Ia hanya berpikir. Keesokan harinya, ia membeli seekor anak lembu dan membangun kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia menggendong lembu itu naik, setiap sore ia membawanya turun.



Follow Widget