PUNGGAWAJAZIRAH – Tidak semua kemuliaan lahir dari kekayaan. Di tengah gempita persiapan Perang Tabuk—salah satu ekspedisi militer terbesar dalam sejarah Islam—seorang sahabat miskin dari golongan Anshar justru menorehkan kisah yang tak lekang oleh waktu. Namanya Ulbah bin Zaid al-Haritsi, dan sedekahnya pada suatu malam sunyi di Madinah konon menggetarkan Arasy Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kisah ini terjadi pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriah. Kota Madinah tengah dilanda musim paceklik. Angin panas bertiup, debu beterbangan, dan suhu udara terasa menyengat kulit. Namun suasana itu tidak menyurutkan semangat kaum muslimin yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri, memenuhi jalanan Madinah dengan bunyi derap kuda, dencingan pedang, dan riuh persiapan perang.
Ancaman datang dari utara. Kekaisaran Romawi—adidaya terbesar di masanya—tengah menyusun kekuatan untuk membalas kekalahan memalukan mereka di Perang Mu’tah, di mana tiga ribu pasukan Muslim berhasil memukul mundur dua ratus ribu tentara gabungan Romawi dan sekutu-sekutunya. Rumor pembalasan menyebar di kalangan muslimin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun mengumumkan secara terbuka tujuan ekspedisi kali ini: Tabuk, sebuah wilayah jauh di utara jazirah Arab.
Berbeda dengan biasanya, kali ini Rasulullah tidak menyembunyikan arah gerakan pasukan. Ini adalah perang terbuka, dan yang tidak siap—baik secara fisik maupun mental—akan ketinggalan.
Reaksi kaum munafik tidak mengejutkan. Mereka berdalih cuaca terlalu panas untuk berperang. Salah seorang di antara mereka, Ja’ad bin Qais, bahkan meminta izin kepada Rasulullah dengan alasan takut tergoda wanita Romawi. Rasulullah mengizinkannya, namun Allah tidak tinggal diam. Turunlah ayat dalam Surah at-Taubah yang mengabadikan kepengecutan mereka hingga hari kiamat.
Sementara itu, kaum mukminin berlomba-lomba. Abu Bakar ash-Shiddiq datang membawa seluruh hartanya—empat ribu dirham—dan ketika ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab tenang: Allah dan Rasul-Nya. Umar bin Khattab menyumbang separuh kekayaannya. Utsman bin Affan bahkan menginfakkan seribu unta lengkap beserta muatannya, seribu dinar emas, ditambah kafilah dagang yang baru tiba dari Syam. Ketika para tengkulak menawar dagangannya hingga sepuluh kali lipat harga pasar, Utsman menolak—karena Allah, katanya, telah menawar tujuh ratus kali lipat dan bahkan lebih.
Di sela semua kemegahan itu, Ulbah bin Zaid berdiri sebagai penonton yang paling menderita.
Ia seorang Anshar dari kabilah Aus. Tidak punya unta, tidak punya kuda, tidak punya pedang cadangan. Bahkan satu dirham pun tidak ia miliki. Ia menyaksikan pasar Madinah bergerak riuh dengan transaksi perlengkapan perang, ia melihat para sahabat kaya raya berlomba-lomba menyerahkan harta mereka kepada Rasulullah, dan ia mendengar sabda Nabi yang mengiris-iris hatinya: barangsiapa yang membantu pembekalan pasukan kesulitan ini, Allah akan mengampuninya dan memberikannya surga.
Semua orang mendapat peluang ke surga. Kecuali, dalam bayangannya, dirinya sendiri.
Ulbah pulang ke rumah dengan dada sesak. Ia berbaring di atas tikar yang lusuh, mencoba memejamkan mata, namun pikiran terus berputar. Apa yang bisa ia sedekahkan? Ia tidak punya harta. Tidak punya bekal. Tidak punya apapun yang dapat ia tawarkan demi perang di jalan Allah.
Hingga tengah malam, sebuah gagasan muncul dari kedalaman hatinya.
Ia bangkit, berwudhu, lalu mengerjakan shalat malam. Di dalam sujud dan doanya, ia menumpahkan segala kepedihan kepada Allah. Ia mengakui kelemahannya, ketidakberdayaannya, dan rasa takutnya bahwa kemiskinan ini akan menggusur kedudukannya di sisi Allah dibanding sahabat-sahabatnya yang lain.
Lalu ia berdoa dengan kalimat yang mengubah segalanya.
Ia berkata kepada Allah bahwa malam itu, ia bersedekah kepada seluruh kaum muslimin dengan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki: kehormatannya. Setiap muslimin yang pernah menyakiti, merendahkan, atau berlaku tidak adil kepadanya—ia maafkan seutuhnya dan ia infakkan pemaafan itu di jalan Allah. Tidak ada harta yang bisa ia berikan. Maka ia berikan kehormatan dirinya sebagai manusia merdeka, sebagai seorang muslim.
Doa itu naik ke langit ketujuh. Konon, ia menggetarkan Arasy.
Keesokan paginya, setelah shalat Subuh berjamaah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdiri dan bertanya kepada para sahabat: siapa yang tadi malam telah bersedekah?
Keheningan menyelimuti masjid. Tidak ada yang mengangkat tangan. Para sahabat saling berpandangan. Ulbah pun diam—ia bahkan tidak merasa telah bersedekah dalam pengertian yang sesungguhnya.
Namun Rasulullah berjalan mendekatinya.
“Sesungguhnya sedekahmu tadi malam, wahai Ulbah, telah diterima oleh Allah sebagai sedekah yang maqbul.”
Ulbah terpaku. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia bertanya berulang-ulang, seolah tidak sanggup mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Benarkah? Sedekah yang tidak berwujud harta itu—diterima?
Rasulullah menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata. Beliau menyerahkan enam ekor unta kepada Ulbah dan tujuh orang temannya, membekali mereka untuk berangkat menuju medan Tabuk. Ulbah, yang semalam tidur di atas tikar lusuh tanpa sepeser pun di kantungnya, kini berangkat berjihad bersama pasukan Rasulullah.
Perang Tabuk berakhir dengan kemenangan Muslim. Negara-negara boneka Romawi menyerahkan diri tanpa pertempuran besar. Dan di antara para pejuang yang pulang membawa kemuliaan itu, ada seorang sahabat Anshar yang fakir—yang pernah menyedekahkan satu-satunya harta yang ia punya: kehormatan dirinya kepada Allah.
Kisah Ulbah bin Zaid bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah cermin tentang apa arti sedekah yang sesungguhnya. Bahwa kemurahan hati tidak selalu diukur dengan besarnya nominal. Bahwa Allah tidak pernah menutup pintu kebaikan hanya karena seseorang tidak memiliki harta. Dan bahwa sebuah doa yang jujur di keheningan malam, dari seseorang yang tidak punya apa-apa selain ketulusan hati, bisa menggetarkan langit yang paling tinggi.
FAQ
Siapakah Ulbah bin Zaid al-Haritsi?
Ulbah bin Zaid al-Haritsi adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dari kalangan Anshar, berasal dari kabilah Aus di Madinah. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat miskin namun memiliki keimanan dan ketulusan hati yang luar biasa, terutama sebagaimana tercatat dalam kisah Perang Tabuk.
Mengapa sedekah Ulbah bin Zaid dikatakan menggetarkan Arasy Allah?
Ulbah menyedekahkan sesuatu yang tak ternilai: kehormatan dirinya. Di tengah ketidakmampuannya berinfak secara materi, ia berdoa kepada Allah dan memaafkan seluruh muslimin yang pernah menyakitinya, lalu menginfakkan pemaafan itu di jalan Allah. Ketulusan dan kedalaman doanya itulah yang dikisahkan sampai menggetarkan Arasy, dan Allah melalui Malaikat Jibril mengabarkannya langsung kepada Rasulullah.
Apa pelajaran utama dari kisah Ulbah bin Zaid untuk umat Islam masa kini?
Kisah ini mengajarkan bahwa sedekah tidak hanya berwujud harta benda. Memaafkan, mendoakan kebaikan bagi sesama, dan bersedekah dengan apa yang kita miliki—meski hanya kehormatan dan keikhlasan—dapat menjadi amal yang sangat berharga di sisi Allah. Kemiskinan materi bukan penghalang untuk meraih kedudukan mulia di akhirat.

Tinggalkan Balasan