Bahkan diceritakan kisah seorang ulama yang segera memadamkan lilin di kamar orang yang baru meninggal, karena lilin itu kini telah menjadi milik ahli waris — bukan lagi milik si mayit.
Kesimpulannya: Yang benar-benar menjadi milik kita hanyalah apa yang telah kita nafkahkan di jalan Allah. Nabi ﷺ pun pernah bersabda bahwa manusia sesungguhnya lebih banyak mengurus harta orang lain — yaitu harta yang akan ditinggalkan — daripada hartanya sendiri.
Bolehkah Sedekah kepada Orang Kaya?
Pertanyaan menarik muncul: bagaimana jika kita bersedekah, namun ternyata yang menerima adalah orang kaya, bahkan seorang penjahat?
UAS menjawab dengan penuh optimisme. Dalam sebuah kisah, seseorang yang bersedekah tiga kali secara berturut-turut ternyata memberikannya kepada orang kaya, penjahat, dan orang miskin. Namun Allah tetap menerima ketiganya dengan hikmah masing-masing:
- Sedekah kepada orang kaya — semoga membuka pintu hidayah dan mendorongnya menjadi dermawan.
- Sedekah kepada penjahat — semoga menyentuh hatinya untuk bertobat.
- Sedekah kepada fakir miskin — memenuhi kebutuhannya yang nyata.
Tidak ada amal yang sia-sia, selama diniatkan dengan ikhlas karena Allah.

Tinggalkan Balasan