RINGKASAN

  1. Ada ironi di mana kita memiliki waktu luang untuk hal-hal duniawi yang tidak penting, namun merasa tidak punya waktu untuk shalat yang hanya membutuhkan beberapa menit saja.
  2. Masalah utama bukanlah kurangnya waktu, melainkan hilangnya kesadaran dan kecenderungan untuk terburu-buru, baik dalam urusan dunia maupun dalam shalat.
  3. Shalat yang dilakukan dengan tergesa-gesa, tanpa kehadiran hati dan pikiran, hanya menggugurkan kewajiban tanpa memberikan ketenangan sejati karena pikiran masih dipenuhi urusan dunia.
  4. Shalat seharusnya menjadi waktu untuk kembali dari keramaian pikiran, ambisi, dan ketakutan, serta meletakkan sebagian beban dunia agar hati tidak merasa harus selalu kuat sendirian.
  5. Gerakan shalat seperti takbir, rukuk, dan sujud memiliki makna mendalam yang mengajarkan tentang menempatkan dunia pada porsinya, mengakui keterbatasan diri, dan merendah di hadapan Allah untuk mendapatkan kekuatan.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Ada ironi yang sering luput dari perhatian kita. Untuk menggulir layar ponsel, waktu habis tanpa terasa. Untuk memikirkan masalah yang sama berulang kali, kepala bisa sibuk seharian penuh. Tapi ketika azan berkumandang dan waktu shalat tiba, tiba-tiba muncul sederetan alasan. Nanti dulu. Sebentar lagi. Tanggung. Padahal shalat tidak memakan waktu berjam-jam. Ia hanya meminta beberapa menit saja.

Persoalannya bukan soal waktu. Yang sering hilang adalah kesadaran.

Kita hidup di era di mana segalanya terasa mendesak. Pesan harus segera dibalas. Pekerjaan harus segera diselesaikan. Masalah harus segera ditangani. Dunia memang pandai menciptakan ilusi bahwa kalau berhenti sebentar, semuanya akan berantakan. Padahal yang lebih dulu berantakan justru sering kali adalah hati sendiri, yang tidak pernah diberi jeda untuk bernapas.

Shalat yang dikerjakan dengan tergesa-gesa pun tidak lepas dari masalah yang sama. Badan berdiri di atas sajadah, tapi pikiran masih melayang ke tumpukan pekerjaan. Mulut melafazkan bacaan, tapi hati masih sibuk menghitung kebutuhan bulan depan. Dahi menyentuh lantai dalam sujud, tapi kepala masih dipenuhi kecemasan tentang esok hari. Shalat selesai, kewajiban gugur, tapi ketenangan tidak ikut hadir.

Inilah yang terjadi ketika shalat diperlakukan seperti tugas harian yang harus cepat dicoret dari daftar. Yang penting sudah dikerjakan. Yang penting sudah terpenuhi. Padahal makna shalat jauh melampaui sekadar urutan gerakan dari berdiri hingga salam. Shalat adalah waktu untuk kembali. Kembali dari pikiran yang terlalu ramai. Kembali dari ambisi yang kadang berlari terlalu kencang. Kembali dari rasa takut yang sering dibesar-besarkan sendiri.



Follow Widget