RINGKASAN
- Manusia memiliki kebiasaan untuk baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, padahal hidup ini penuh dengan pemberian yang patut disyukuri setiap hari.
- Nikmat yang paling dekat seperti kemampuan melihat, mendengar, dan bergerak sering kali terlupakan karena dianggap biasa, padahal semuanya adalah titipan.
- Shalat adalah bentuk terima kasih paling sederhana atas segala nikmat yang diberikan Allah, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi karena manusia sendiri yang perlu diingatkan.
- Kesenangan duniawi sering kali menyita waktu berjam-jam, namun manusia merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat, padahal semua aktivitas duniawi itu bisa dijalani karena nikmat dari Allah.
- Shalat berfungsi sebagai pengingat untuk merendah, mengakui ketergantungan kepada Allah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat sederhana yang sering terabaikan, terutama di saat hidup sedang baik-baik saja.
Media sosial juga sering membuat rasa syukur semakin kabur. Setiap hari terlihat hidup orang lain yang tampak lebih indah—ada yang liburan, ada yang membeli rumah, ada yang usahanya berkembang pesat. Akhirnya hati mudah merasa kurang. Nikmat sendiri terasa kecil karena terlalu sering melihat nikmat orang lain. Padahal yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari hidup seseorang, bukan keseluruhan ceritanya.
Di tengah hidup yang mudah membuat manusia lupa, shalat menjadi tempat untuk kembali sadar. Shalat mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal mengejar dan meminta lebih, tapi juga soal pulang dan mengakui bahwa selama ini sudah banyak sekali diberi.
Kalau shalat masih sering bolong, jangan malah menjauh. Kalau masih sering terlambat, perbaiki pelan-pelan. Kalau masih terasa berat, tetap paksa diri untuk mulai. Tidak perlu menunggu sempurna untuk kembali kepada Allah. Justru dengan shalat, hati dilatih untuk menjadi lebih baik sedikit demi sedikit.
Allah tahu siapa yang sedang berusaha. Allah tahu siapa yang sedang melawan malasnya sendiri. Allah tahu siapa yang sedang mencoba kembali setelah lama lalai. Yang penting jangan sengaja menjauh. Jangan merasa nanti saja. Jangan menunggu tua, menunggu sakit, atau menunggu kehilangan. Sebab tidak ada yang tahu sampai kapan kesempatan ini diberikan.

Tinggalkan Balasan