RINGKASAN

  1. Manusia memiliki kebiasaan untuk baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, padahal hidup ini penuh dengan pemberian yang patut disyukuri setiap hari.
  2. Nikmat yang paling dekat seperti kemampuan melihat, mendengar, dan bergerak sering kali terlupakan karena dianggap biasa, padahal semuanya adalah titipan.
  3. Shalat adalah bentuk terima kasih paling sederhana atas segala nikmat yang diberikan Allah, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi karena manusia sendiri yang perlu diingatkan.
  4. Kesenangan duniawi sering kali menyita waktu berjam-jam, namun manusia merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat, padahal semua aktivitas duniawi itu bisa dijalani karena nikmat dari Allah.
  5. Shalat berfungsi sebagai pengingat untuk merendah, mengakui ketergantungan kepada Allah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat sederhana yang sering terabaikan, terutama di saat hidup sedang baik-baik saja.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Shalat adalah cara paling sederhana untuk mengakui semua itu. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu masalah selesai. Tidak perlu menunggu hati benar-benar tenang atau hidup terasa rapi dan sempurna. Shalat bisa dilakukan kapan saja—saat lapang maupun sempit, saat hati senang maupun berat.

Kadang shalat terasa berat bukan karena gerakannya sulit, tapi karena hati terlalu penuh dengan urusan dunia. Sibuk mengejar pekerjaan, membalas pesan, membuka media sosial, memikirkan target, membandingkan hidup dengan orang lain di layar. Sampai lupa bahwa semua kesibukan itu pun bisa dijalani karena Allah masih memberi nikmat untuk menjalaninya.

Bisa bekerja karena tubuh masih kuat. Bisa mencari rezeki karena pikiran masih berjalan. Bisa mengejar impian karena kesempatan masih terbuka. Maka terasa ganjil ketika manusia sanggup menghabiskan berjam-jam untuk urusan dunia, tapi merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat.

Dalam sehari ada dua puluh empat jam. Dari seluruh waktu itu, yang diminta hanyalah berhenti sejenak—berdiri, rukuk, sujud, dan mengingat kembali siapa yang memberi semua ini. Tapi justru yang sebentar itu sering ditunda. Yang sebentar itu sering dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.



Follow Widget