RINGKASAN
- Manusia memiliki kebiasaan untuk baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, padahal hidup ini penuh dengan pemberian yang patut disyukuri setiap hari.
- Nikmat yang paling dekat seperti kemampuan melihat, mendengar, dan bergerak sering kali terlupakan karena dianggap biasa, padahal semuanya adalah titipan.
- Shalat adalah bentuk terima kasih paling sederhana atas segala nikmat yang diberikan Allah, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi karena manusia sendiri yang perlu diingatkan.
- Kesenangan duniawi sering kali menyita waktu berjam-jam, namun manusia merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat, padahal semua aktivitas duniawi itu bisa dijalani karena nikmat dari Allah.
- Shalat berfungsi sebagai pengingat untuk merendah, mengakui ketergantungan kepada Allah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat sederhana yang sering terabaikan, terutama di saat hidup sedang baik-baik saja.
Shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat juga pengingat yang terus berulang. Saat berdiri, manusia diingatkan bahwa kaki ini masih kuat menopang tubuh. Saat membaca bacaan shalat, manusia diingatkan bahwa lisan ini masih bisa bergerak. Saat rukuk dan sujud, manusia diingatkan bahwa tubuh ini masih mampu tunduk. Saat berdoa, manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun usaha, tetap saja hidup bergantung kepada Allah.
Dalam sujud, manusia belajar merendah. Di luar shalat, manusia sering ingin terlihat hebat, ingin dihargai, ingin diakui. Tapi dalam sujud, kepala diletakkan di tempat paling rendah. Di situlah pengingat yang paling jujur: setinggi apa pun posisi di dunia, di hadapan Allah manusia tetaplah hamba.
Sayangnya, banyak orang baru benar-benar mengingat Allah ketika hidup sedang sulit. Saat masalah datang bertubi-tubi, shalat mulai diperbaiki. Saat jalan terasa buntu, Allah mulai disebut dengan lebih sungguh-sungguh. Itu tetap lebih baik daripada tidak kembali sama sekali. Tapi alangkah baiknya kalau shalat tidak hanya dijaga saat hidup sedang susah, melainkan juga—dan justru terutama—saat hidup sedang baik-baik saja.
Karena bersyukur bukan hanya ketika mendapat hal besar. Bukan hanya ketika rezeki bertambah atau doa terkabul. Bersyukur juga perlu dilakukan saat hari berjalan biasa saja. Tidak ada kabar buruk saja sudah nikmat. Bisa makan dengan tenang saja sudah nikmat. Bisa pulang dengan selamat saja sudah nikmat.

Tinggalkan Balasan