BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Teladan paling agung dalam ibadah kurban datang dari Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail. Allah mengabadikan kisah itu dalam Surah Ash-Shaffat ayat 103–107 — sebuah adegan yang hingga kini mengguncang siapa saja yang merenunginya dengan serius.

Ibrahim diperintahkan menyembelih buah hatinya. Dan Ismail, dengan ketenangan luar biasa, justru mempersilakan sang ayah menjalankan perintah Tuhan. Ketika pisau hendak diturunkan, Allah menggantikannya dengan sembelihan yang besar — itulah puncak ujian yang lulus bukan karena kekuatan fisik, tetapi karena ketulusan jiwa.

Kisah ini mengajarkan bahwa kurban sejatinya adalah penyembelihan ego. Penyembelihan terhadap rasa cinta berlebihan pada dunia, pada harta, bahkan pada hal-hal yang paling kita sayangi. Ketika seseorang mampu melepaskan apa yang ia cintai demi Allah, di situlah makna kurban yang sesungguhnya hadir.

Rasulullah SAW tidak main-main dalam menekankan pentingnya ibadah ini. Beliau bersabda bahwa siapa pun yang memiliki keluasan rezeki namun enggan berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat. Peringatan keras ini bukan tanpa alasan — kurban adalah barometer kedermawanan dan keimanan seseorang di hadapan Allah.



Follow Widget