RINGKASAN

  1. Asiyah binti Muzahim, istri Firaun, menyimpan rahasia iman kepada Allah di istana termewah di Mesir kuno, di tengah kekejaman suaminya yang mengaku Tuhan.
  2. Asiyah menyelamatkan bayi Musa dari pembunuhan oleh Firaun dan merawatnya di istana, memperlakukannya seperti anaknya sendiri.
  3. Meskipun tumbuh di istana Firaun, Musa kelak diutus Allah untuk meruntuhkan kezaliman Firaun, dan ini mengguncang hati Asiyah yang mencari kebenaran.
  4. Menyaksikan penyiksaan brutal terhadap seorang pelayan dan bayinya yang beriman, Asiyah akhirnya menyatakan keimanannya kepada Allah di hadapan Firaun.
  5. Asiyah disiksa dan dipasrahkan ke tanah di padang pasir oleh Firaun, namun ia tetap tersenyum dan memohon kepada Allah, yang memperlihatkan istana di surga sebelum ia wafat.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Di dalam istana termewah di muka bumi, di balik dinding marmer dan tirai sutra, seorang perempuan menyimpan rahasia paling berbahaya yang bisa dimiliki siapa pun di Mesir kuno—iman kepada Allah, Tuhan yang bukan Firaun.

Itulah Asiyah binti Muzahim, istri penguasa terkejam zamannya. Perempuan yang namanya diabadikan Al-Qur’an, dipuji Rasulullah SAW sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa, dan dikenang bukan karena singgasana yang pernah ia duduki, melainkan karena keyakinan yang ia peluk hingga napas terakhir.

Firaun berkuasa mutlak atas Mesir. Ia memaksa rakyat bersujud padanya, mengaku sebagai tuhan, dan menghukum setiap pembangkang dengan brutal. Pasukannya menyisir jalanan, membunuh setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil, karena mimpi mengerikan memperingatkan bahwa seorang anak dari kaum itu kelak akan meruntuhkan tahtanya.

Jeritan para ibu yang kehilangan bayi menembus dinding istana. Dan Asiyah mendengar semuanya.

Berbeda dari suaminya, Asiyah adalah perempuan yang hatinya tak pernah bisa diisi oleh emas dan pesta. Ia menyaksikan kekejaman berlapis dari dalam istana yang mestinya menjadi tempat paling nyaman di dunia. Namun kemewahan itu justru terasa seperti penjara bagi jiwa yang mencari kebenaran.

Maka ketika suatu hari para pelayan menarik sebuah peti kayu kecil dari arus Sungai Nil dan membukanya di hadapan Firaun, mengungkap seorang bayi laki-laki yang seharusnya langsung dibunuh, Asiayah-lah yang berdiri di antara sang bayi dan kematiannya.

“Anak ini akan membawa kebahagiaan bagi kita berdua. Jangan bunuh dia,” ucapnya. Satu kalimat yang mengubah arah sejarah.

Bayi itu adalah Musa.

Musa kecil tumbuh di istana Firaun dalam pelukan Asiyah yang hangat. Ia diperlakukan bak pangeran, diberi pakaian sutra dan makanan emas. Asiyah menamainya, merawatnya, dan mencintainya seperti anaknya sendiri. Ia bahkan berhasil menyatukan Musa kembali dengan ibu kandungnya, yang diundang masuk ke istana sebagai ibu susu setelah Musa menolak menyusu pada siapa pun selain ibunya.

Takdir bekerja dengan cara yang tidak terduga. Anak yang dibesarkan di tengah istana kezaliman, justru kelak menjadi senjata Allah untuk meruntuhkan kezaliman itu sendiri.

Tahun berlalu. Musa tumbuh, kemudian terpaksa meninggalkan Mesir, melarikan diri setelah sebuah peristiwa fatal. Ia menyeberangi gurun selama delapan hari menuju Madyan, tanpa makanan dan tanpa kepastian. Asiyah melepasnya dengan hati yang hancur namun tak bisa berbuat apa-apa.

Dan saat Musa kembali bertahun-tahun kemudian, ia bukan lagi anak angkat yang dulu. Ia datang sebagai utusan Allah, membawa risalah dari Tuhan yang sesungguhnya—bukan Firaun.

Setiap kata yang Musa ucapkan di hadapan Firaun mengguncang hati Asiyah. Kebenaran yang selama ini ia cari dalam senyap, kini berdiri di depan matanya dengan terang. Perlahan-lahan, keyakinan itu tumbuh dan mengakar.

Asiyah memilih Allah.

Namun sebelum ia sempat mengucapkannya terang-terangan, peristiwa lain membakar keberaniannya. Seorang pelayan istana kepergok mengucap “Bismillah” saat menyisir rambut putri Firaun. Firaun memerintahkan penyiksaan brutal atas perempuan itu—tangan dan kakinya dipaku ke tanah, tubuhnya dijemur di bawah terik matahari tanpa air dan belas kasihan.

Bahkan anaknya yang masih bayi dilempar ke dalam kobaran api.

Asiyah menyaksikan semua itu. Dan dari dalam api itu, bayi mungil itu berkata kepada ibunya untuk tetap teguh. Saat itu, Asiyah tak bisa lagi diam.

Ia menghadap Firaun dan berkata, “Kau hanya manusia lemah, tapi mengaku Tuhan!”

Itulah titik tanpa jalan kembali.

Firaun yang selama ini menghormati dan mendengar Asiyah, yang tak pernah sanggup menolak permintaannya, kini berbalik dengan amarah yang mengguncang istana. Ia menyeret Asiyah keluar, ke tengah padang pasir yang membara. Tangan dan kakinya dipasak ke tanah. Cambuk menghantam punggungnya berulang kali.

Namun Asiyah tersenyum.

Di bawah langit Mesir yang menyala, dengan tubuh yang tercabik dan bibir yang pecah-pecah, ia mengangkat wajahnya ke atas dan berdoa, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya.”

Allah memperlihatkan kepadanya istana mutiara yang telah disiapkan untuknya di Jannah.

Wajah Asiyah berseri. Ia tersenyum untuk terakhir kalinya di dunia ini.

Firaun yang menyaksikan itu tertawa mengejek. “Lihat si gila ini! Ia tersiksa tapi masih tertawa.”

Ia tidak mengerti. Dan ia tidak akan pernah mengerti.

Asiyah wafat dengan senyum di bibir dan iman di dada. Kisahnya bukan sekadar cerita tentang perempuan yang kuat. Ia adalah bukti bahwa keimanan sejati tidak menunggu kondisi yang sempurna—tidak menunggu lingkungan yang mendukung, tidak menunggu rasa takut hilang, tidak menunggu situasi berubah.

Asiyah beriman di dalam istana tiran yang mengaku sebagai tuhan. Di tempat paling mustahil sekalipun.

Dan langkah itu menjadi pintunya menuju Surga.

Kisah Asiyah RA meninggalkan pertanyaan yang relevan hingga hari ini: jika ia mampu memilih iman di tengah tekanan sehebat itu, alasan apa yang masih kita miliki untuk menunda?

FAQ

Siapakah Asiyah RA dan mengapa ia dianggap sebagai wanita mulia dalam Islam? Asiyah binti Muzahim adalah istri Firaun yang beriman kepada Allah dan merawat Nabi Musa AS sejak bayi. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai salah satu wanita terbaik sepanjang masa karena keteguhan imannya yang luar biasa, bahkan di tengah tekanan dan siksaan dari suaminya sendiri, Firaun.

Apa hubungan Asiyah RA dengan Nabi Musa AS? Asiyah adalah ibu angkat Nabi Musa AS. Ketika peti berisi bayi Musa ditemukan di Sungai Nil, Asiyah yang menghalangi Firaun membunuhnya dan meminta agar bayi itu diangkat sebagai anak. Ia pula yang merawat dan membesarkan Musa di dalam istana hingga dewasa.

Bagaimana akhir kehidupan Asiyah RA? Setelah menyatakan keimanannya secara terang-terangan kepada Allah dan menolak mengakui ketuhanan Firaun, Asiyah disiksa dengan cara dipasak tangan dan kakinya ke tanah di bawah terik matahari. Sebelum wafat, ia memanjatkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an, memohon rumah di surga, dan Allah memperlihatkan kepadanya istana di Jannah sebelum ruhnya dijemput.



Follow Widget