RINGKASAN
- Manusia memiliki kebiasaan untuk baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, padahal hidup ini penuh dengan pemberian yang patut disyukuri setiap hari.
- Nikmat yang paling dekat seperti kemampuan melihat, mendengar, dan bergerak sering kali terlupakan karena dianggap biasa, padahal semuanya adalah titipan.
- Shalat adalah bentuk terima kasih paling sederhana atas segala nikmat yang diberikan Allah, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi karena manusia sendiri yang perlu diingatkan.
- Kesenangan duniawi sering kali menyita waktu berjam-jam, namun manusia merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat, padahal semua aktivitas duniawi itu bisa dijalani karena nikmat dari Allah.
- Shalat berfungsi sebagai pengingat untuk merendah, mengakui ketergantungan kepada Allah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat sederhana yang sering terabaikan, terutama di saat hidup sedang baik-baik saja.
PUNGGAWAJAZIRAH – Manusia punya kebiasaan aneh, baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya. Selama mata bisa melihat, kaki bisa melangkah, dan tangan bisa bergerak, semua itu terasa sudah semestinya ada—bukan karunia yang perlu disyukuri setiap hari.
Padahal kalau mau berhenti sebentar dan berpikir, hidup ini sesungguhnya penuh dengan pemberian yang tidak pernah berhenti datang. Bangun pagi saja sudah nikmat yang luar biasa. Tidak semua orang yang menutup mata malam ini akan membukanya lagi esok hari. Ada yang masih punya rencana panjang, masih punya keluarga yang menunggu, masih punya mimpi yang belum selesai dikejar—tapi ternyata waktu mereka sudah habis. Sementara kita masih diberi kesempatan untuk bangun, bernapas, dan melanjutkan hari.
Nikmat yang paling dekat justru paling mudah terlupakan. Karena setiap hari ada, lama-lama terasa seperti milik sendiri. Padahal mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, kaki yang bisa melangkah—semuanya bukan milik mutlak manusia. Semuanya hanya titipan.
Ambil contoh sariawan. Kelihatannya sepele, hanya luka kecil di sudut mulut. Tapi dari luka sekecil itu, makan jadi tidak nyaman, minum terasa perih, dan makanan pedas yang biasanya dinikmati mendadak seperti ujian. Dari satu sariawan saja, manusia bisa sadar bahwa nikmat makan bukan sekadar soal punya makanan. Ada nikmat mulut yang sehat, lidah yang bisa merasa, gigi yang bisa mengunyah, dan tenggorokan yang bisa menelan—semua bekerja bersama tanpa pernah diminta.

Tinggalkan Balasan