RINGKASAN
- Keberadaan Islam di Korea Selatan memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak abad ke-9 Masehi, dibawa oleh para pedagang Muslim dari Timur Tengah dan Asia Tengah yang berdagang melalui Jalur Sutra.
- Pada era Dinasti Goryeo, hubungan dengan dunia Islam mencapai puncaknya dengan komunitas Muslim yang memiliki tempat ibadah, namun agama ini ditekan dan nyaris lenyap pada Dinasti Joseon yang mengadopsi Konfusianisme.
- Islam kembali bangkit di Korea pada abad ke-20 pasca Perang Korea, terutama berkat kehadiran Brigade Turki, yang kemudian diikuti dengan pendirian Seoul Central Mosque pada tahun 1976.
- Komunitas Muslim di Korea Selatan mengalami pertumbuhan pesat, dari sekitar 45.000 pada tahun 2002 menjadi 400.000 pada tahun 2024, didorong oleh pekerja migran dan meningkatnya jumlah mualaf Korea.
- Kini, Islam merupakan bagian dari mozaik keberagaman di Korea Selatan, ditandai dengan berkembangnya infrastruktur pendukung seperti masjid, restoran halal, serta kisah inspiratif para mualaf yang memadukan identitas Muslim dengan budaya Korea.
Wajah-wajah Mualaf: Kisah Inspiratif dari Negeri Ginseng
Di antara gelombang mualaf Korea, beberapa nama mencuri perhatian publik. Ayana Jun, seorang gadis cantik yang fasih berbahasa Indonesia dan kerap muncul di televisi Indonesia, adalah salah satunya. Lahir dan besar dalam keluarga Korea yang terbuka terhadap keberagaman, Ayana mulai tertarik pada Islam di usia 17 tahun setelah menyelami budaya Timur Tengah.
“Semakin saya memahami esensi Islam, semakin saya merasakan ketenangan yang sebelumnya tidak pernah saya temukan,” ungkap Ayana dalam berbagai kesempatan.
Kisah lain datang dari Lee Joo-hwa, seorang peneliti yang menghabiskan 200 jam membaca buku tentang sejarah dunia Islam sebelum memutuskan memeluk agama ini. Juga Ha Na-yeon, yang awalnya tidak beragama namun tertarik pada Islam setelah bekerja di Korea Muslim Federation (KMF) pada 2008.
Unik adalah kisah Munah (Hun Min-bae), seorang ilustrator dan selebgram yang viral karena karyanya menggambarkan wanita berhijab mengenakan Hanbok, pakaian tradisional Korea. Melalui Instagram, ia menggabungkan identitas sebagai Muslimah dengan warisan budaya Korea, memberikan perspektif baru tentang toleransi dan keberagaman.

Tinggalkan Balasan