BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWANEWS, Di masa sekarang, tidak sedikit orang merasa sulit berkembang karena merasa kekurangan fasilitas. Mereka merasa tidak memiliki alat yang memadai, akses yang ideal, lingkungan yang mendukung, mentor yang dekat, ataupun kemampuan finansial yang cukup. Dari berbagai keterbatasan itu kemudian muncul satu kebiasaan yang diam-diam melemahkan: merasa wajar berhenti bahkan sebelum benar-benar memulai.

Padahal dalam sejarah Islam, banyak tokoh besar justru tumbuh bukan dari kemewahan sarana, tetapi dari kekuatan tekad. Salah satu sosok yang sangat jelas menggambarkan hal ini adalah Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga simbol bahwa keterbatasan tidak harus menjadi penghalang bagi perjalanan ilmu.

Imam Syafi’i tumbuh dalam keadaan ekonomi yang tidak longgar. Ayah beliau wafat ketika beliau masih kecil, lalu ibunya membesarkan beliau dengan penuh perjuangan. Dalam berbagai kitab biografi ulama disebutkan bahwa masa kecil beliau dijalani dengan kesederhanaan. Bahkan pernah diriwayatkan beliau menulis pelajaran di media seadanya karena tidak selalu mampu membeli bahan tulis.

Namun yang membuat beliau menjadi besar bukanlah kelengkapan fasilitas, melainkan kedisiplinan yang luar biasa dalam belajar. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menyebutkan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Ayat ini tidak mengatakan bahwa yang dimuliakan hanyalah mereka yang hidup dalam kemudahan. Yang Allah angkat derajatnya adalah mereka yang memiliki iman dan ilmu. Imam Syafi’i menjadi bukti bahwa jalan menuju kemuliaan tetap terbuka bahkan bagi mereka yang memulai dari keterbatasan.

Keistimewaan Imam Syafi’i bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi juga pada cara beliau menjaga fokus dan waktunya. Banyak orang terpesona pada hasil besar yang beliau capai, tetapi lupa bahwa hasil besar biasanya lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan disiplin. Sejak usia muda, beliau dikenal memiliki hafalan yang sangat kuat. Beliau menghafal Al-Qur’an pada usia yang sangat dini, kemudian mempelajari bahasa Arab, syair, hadis, dan fikih dengan ketekunan yang luar biasa.

Dalam berbagai riwayat biografi yang masyhur disebutkan bahwa beliau pernah pergi ke perkampungan Hudzail untuk memperdalam bahasa Arab agar ilmunya kokoh dari akar. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak pernah puas dengan pengetahuan yang dangkal. Beliau ingin fondasi ilmunya benar-benar kuat.

Pada zaman sekarang, banyak orang ingin cepat terlihat pintar, tetapi kurang sabar membangun dasar yang kokoh. Mereka ingin hasil yang cepat, tetapi tidak tahan dengan proses panjang yang sunyi. Padahal ilmu yang kuat hampir selalu lahir dari pengulangan, kesabaran, dan ketekunan dalam menempuh perjalanan panjang.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Hadis ini sangat indah karena menekankan kata “menempuh jalan”. Artinya ada proses, langkah, dan perjalanan yang harus dilalui. Imam Syafi’i benar-benar menjalani jalan itu. Beliau tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk belajar. Beliau belajar sambil berjuang.

Imam Syafi’i juga dapat menjadi teladan bagi anak muda yang sering merasa sulit fokus. Di zaman yang penuh distraksi seperti sekarang, perhatian manusia sangat mudah terpecah. Sedikit belajar lalu berpindah ke hal lain. Sedikit membaca lalu terdistraksi. Sedikit semangat lalu kembali turun karena melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih mudah.

Imam Syafi’i menunjukkan sikap yang berbeda. Ilmu menuntut pengorbanan perhatian. Dalam nasihat yang masyhur yang dinisbatkan kepada beliau, disebutkan bahwa ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dengan beberapa syarat seperti kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.

Walaupun nasihat ini bukan hadis, maknanya selaras dengan perjalanan hidup beliau. Beliau tidak menjadi imam besar dalam waktu singkat. Beliau menjadi besar karena sangat menghargai waktunya.

Dalam Islam, waktu memang memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr dan menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ayat ini seolah membuka akar masalah banyak manusia hari ini. Kerugian sering bukan karena tidak memiliki potensi, tetapi karena waktu yang terbuang tanpa arah.

Imam Syafi’i memahami bahwa waktu bukan sekadar tempat lewatnya hari, tetapi bahan baku untuk meraih kemuliaan. Karena itu beliau menjaganya dengan sangat serius.

Salah satu pelajaran penting dari beliau adalah bahwa keterbatasan tidak membuatnya rendah diri. Sebaliknya, keterbatasan justru menjadi alasan untuk lebih keras menempa diri. Sering kali masalah terbesar bukan pada kurangnya fasilitas, tetapi pada mental yang terlalu cepat merasa kalah.

Sebagian orang baru menghadapi sedikit hambatan sudah merasa bahwa keadaan tidak mendukung mereka. Padahal para ulama besar justru tumbuh dengan daya juang yang tinggi. Imam Syafi’i menempuh perjalanan jauh untuk belajar kepada para ulama besar, termasuk kepada Imam Malik. Beliau kemudian terus berpindah tempat untuk mengambil ilmu dari berbagai guru hingga akhirnya menjadi salah satu imam mazhab terbesar dalam sejarah Islam.

Semua itu menunjukkan satu hal sederhana: orang yang sungguh ingin berkembang akan mencari jalan, bukan memperbanyak alasan.

Allah berfirman dalam QS. Taha ayat 114 dengan doa yang sangat singkat namun dalam maknanya: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” Doa ini menunjukkan bahwa seorang pencari ilmu tidak pernah merasa cukup. Imam Syafi’i hidup dengan semangat seperti itu. Beliau tidak berhenti pada apa yang telah dicapai, tetapi terus belajar, menelaah, dan memperbaiki pendapatnya.

Beliau bahkan dikenal memiliki dua fase pendapat dalam fikih, yaitu qaul qadim dan qaul jadid, yang menunjukkan keluasan ilmu sekaligus kerendahan hati untuk memperbaiki pandangan ketika menemukan dalil yang lebih kuat.

Imam Syafi’i juga menekankan bahwa ilmu harus disertai dengan adab dan kebersihan jiwa. Ini sangat penting, karena tidak semua orang yang cerdas memiliki hati yang bersih. Ilmu yang benar tidak hanya memperkaya pikiran, tetapi juga memperhalus akhlak.

Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya, Waki’, tentang lemahnya hafalan beliau. Sang guru menasihatinya agar meninggalkan maksiat karena ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat. Walaupun kisah ini bukan hadis, maknanya selaras dengan prinsip agama.

Ilmu bukan sekadar kemampuan menghafal, tetapi juga keberkahan yang Allah letakkan pada hati yang dijaga. Dalam QS. An-Nur ayat 35 disebutkan tentang cahaya Allah, dan banyak ulama menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat termasuk bagian dari cahaya tersebut.

Karena itu Imam Syafi’i tidak hanya memberi teladan dalam kesungguhan belajar, tetapi juga dalam menjaga diri agar ilmu yang diperoleh membawa keberkahan. Di zaman sekarang, informasi sangat melimpah, tetapi keberkahan ilmu sering terasa tipis karena kurangnya disiplin batin, kesabaran, dan penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.

Pada akhirnya, kisah Imam Syafi’i menjadi jawaban bagi generasi yang terlalu cepat merasa tidak mampu. Beliau menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Kekurangan fasilitas bukan alasan untuk menunda perkembangan.

Justru sering kali orang besar lahir dari kehidupan yang sejak awal menuntut kesungguhan. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Kemuliaan tidak diberikan kepada orang yang hanya memiliki niat, tetapi kepada mereka yang bersungguh-sungguh menempuh jalannya. Imam Syafi’i menjalani jalan itu dengan fokus, konsistensi, dan penghormatan yang besar terhadap waktu.

Pelajaran penting dari beliau bagi generasi hari ini adalah jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai belajar. Karena hidup mungkin tidak akan pernah sepenuhnya ideal. Mulailah dengan apa yang ada, jaga waktu, luruskan niat, perbaiki adab, dan terus melangkah.

Sering kali yang membedakan orang biasa dan orang besar bukanlah bakat yang sangat jauh berbeda, melainkan kesungguhan yang jauh lebih kuat.



Follow Widget