RINGKASAN

  1. Rasulullah SAW menyaksikan sebuah istana megah di surga yang ternyata milik Umar bin Khattab, seorang sahabat yang saat itu masih hidup di bumi.
  2. Rasulullah SAW menahan keinginan masuk ke istana tersebut karena teringat akan kecemburuan Umar, menunjukkan akhlak mulia yang menjaga perasaan sahabatnya.
  3. Ketika mendengar kabar istana di surga, Umar justru menangis dan merasa takut akan hisab di hadapan Allah, menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran diri.
  4. Umar bin Khattab, yang awalnya memusuhi Islam, kemudian menjadi sosok yang tegas namun beriman, mengubah peta kekuatan kaum muslimin dan memikul amanah kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab.
  5. Umar senantiasa merasa takut akan pertanggungjawabannya di hadapan Allah, bahkan ketika menjabat sebagai khalifah, ia melakukan pelayanan tulus kepada rakyatnya dan tetap rendah hati meskipun telah dijamin surga.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Ketika kabar itu sampai kepada Umar, reaksinya jauh dari yang dibayangkan. Tidak ada senyum bangga. Tidak ada dada yang membusung. Umar justru menangis, lalu berkata dengan suara bergetar, “Apakah aku akan cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?”

Tangisan itu bukan basa-basi. Itu adalah suara hati seorang mukmin yang terlalu mengenal dirinya sendiri—tahu betapa berat hisab yang menantinya, dan betapa kecilnya ia di hadapan Allah.

Umar bin Khattab bukan sosok yang lahir dalam kelembutan. Sebelum masuk Islam, namanya adalah ancaman. Ia berdiri di barisan terdepan dalam memusuhi dakwah Rasulullah SAW. Bahkan pernah suatu hari ia keluar dari rumah dengan niat yang paling gelap—mengakhiri hidup Nabi SAW.

Perjalanan ke tujuan itu berbelok ketika ia mendatangi rumah adiknya, Fatimah binti Khattab. Di sana ia mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya—ayat-ayat Al-Qur’an dari Surah Thaha. Setiap kalimat menghantam kesombongannya. Setiap ayat merobohkan benteng di dalam dadanya.

Umar yang ditakuti Quraisy itu kini gemetar di hadapan firman Allah.



Follow Widget