Bagian II: Pertanyaan yang Menyentuh Hati Malaikat
Dengan tenang, Nabi Ibrahim bertanya—bukan dengan nada takut, bukan pula dengan nada marah, melainkan dengan nada penuh keikhlasan dan keinginan untuk memahami:
“Apakah engkau datang sebagai tamu yang akan kuhormati, atau sebagai pencabut nyawa yang akan menjalankan tugasmu?”
Pertanyaan ini sederhana, namun penuh makna. Ibrahim tidak mengelak. Ia tidak meminta waktu tambahan. Ia hanya ingin tahu: apa yang harus ia lakukan terhadap tamu mulia ini?
Malaikat Izrail menjawab dengan jujur:
“Aku diutus untuk mencabut rohmu, wahai Ibrahim. Namun Allah—Tuhanmu yang Maha Pengasih—memerintahkanku untuk meminta izin darimu terlebih dahulu.”
Ini adalah kehormatan luar biasa. Dalam sejarah pencabutan nyawa, hanya sedikit manusia yang diberi pilihan atau dimintai izin. Namun Allah memberikan kehormatan ini kepada kekasih-Nya, Ibrahim.
Tapi kemudian, Ibrahim mengajukan satu pertanyaan yang membuat malaikat maut terdiam—pertanyaan yang bukan sekadar retorika, melainkan pernyataan cinta yang paling dalam:
“Wahai Malaikat Maut, pernahkah engkau melihat seorang kekasih yang tega mencabut nyawa orang yang dicintainya?”
Kata-kata itu seperti panah yang menembus hati. Malaikat Izrail, yang telah mencabut nyawa jutaan makhluk sejak awal penciptaan, tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda. Hatinya bergetar.
Bagaimana mungkin ia bisa menjawab pertanyaan ini? Bagaimana mungkin ia bisa menjalankan tugasnya, sementara Ibrahim—orang yang ia hormati—mempertanyakan apakah seorang kekasih (Allah) tega memisahkan diri dari orang yang dicintainya (Ibrahim)?
Bagian III: Malaikat Izrail Kembali ke Langit
Malaikat Izrail tidak segera mencabut ruh Ibrahim. Ia tidak bisa. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab.
Ia pun naik kembali ke langit, kembali ke hadirat Allah yang Maha Tinggi, untuk melaporkan apa yang terjadi.
“Wahai Rabbku, Ibrahim—kekasih-Mu—mempertanyakan tugasku. Ia berkata, ‘Apakah seorang kekasih tega memisahkan diri dari yang dicintainya?'”
Malaikat Izrail tidak protes. Ia hanya melaporkan. Ia tahu bahwa hanya Allah yang bisa menjawab pertanyaan seperti ini.
Dan Allah, dengan kasih sayang yang tidak terbatas, dengan kebijaksanaan yang tidak terhingga, menjawab dengan pertanyaan balik yang lebih dalam lagi:
“Wahai malaikatku, katakanlah kepada kekasih-Ku Ibrahim: Apakah seorang kekasih tidak rindu bertemu dengan yang dicintainya?”
Subhanallah.
Jawaban itu bukan sekadar logika. Itu adalah esensi dari cinta sejati. Jika Ibrahim mencintai Allah, bukankah ia seharusnya rindu untuk bertemu dengan-Nya? Dan jika Allah mencintai Ibrahim, bukankah Ia juga rindu untuk mempertemukan kekasih-Nya dengan diri-Nya?
Kematian, dalam konteks ini, bukan lagi perpisahan. Kematian adalah reuni.

Tinggalkan Balasan