RINGKASAN

  1. Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah memiliki keutamaan yang luar biasa, bahkan melampaui 10 malam terakhir Ramadan menurut para ulama.
  2. Hadis sahih menyatakan bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah melebihi 10 awal Zulhijah.
  3. Keunikan 10 awal Zulhijah terletak pada ibadah besar yang hanya ada di dalamnya, yaitu haji dan kurban.
  4. Amalan yang dianjurkan selama 10 awal Zulhijah meliputi memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid, takbir, puasa sunah (terutama puasa Arafah), sedekah, dan salawat.
  5. 10 awal Zulhijah adalah musim kebaikan dan panen pahala yang seringkali terabaikan dibandingkan dengan kesibukan di 10 malam terakhir Ramadan.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Banyak Muslim terpesona dengan 10 malam terakhir Ramadan, berlomba-lomba iktikaf dan memperbanyak ibadah. Namun ada satu musim kebaikan lain yang nilainya tidak kalah—bahkan menurut para ulama, melampaui keistimewaan malam-malam Ramadan itu. Namanya: sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.

Dalam sebuah ceramah yang disampaikan Buya Yahya, ulama pengasuh Al-Bahjah Cirebon, beliau mengingatkan umat Islam tentang keutamaan luar biasa yang tersimpan di awal bulan terakhir kalender Hijriah ini. Hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari menjadi landasan utama: tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah melebihi 10 awal Zulhijjah.

Pesan itu sederhana, namun mengandung bobot yang besar. Setiap kebaikan yang dilakukan di hari-hari tersebut—sekecil apa pun—berpeluang berlipat ganda pahalanya di sisi Allah.

Buya Yahya menjelaskan, para ulama membedakan antara keutamaan 10 akhir Ramadan dengan 10 awal Zulhijah. Sepuluh akhir Ramadan unggul dalam hal keistimewaan malamnya—di sanalah Lailatul Qadar tersembunyi. Namun 10 awal Zulhijah unggul dalam kualitas hari-harinya. Artinya, ibadah siang hari di periode ini memiliki nilai yang tidak tertandingi oleh hari-hari mana pun sepanjang tahun.

Yang membuat 10 awal Zulhijah benar-benar unik adalah dua ibadah besar yang hanya ada di dalamnya: haji dan kurban. Salat bisa dikerjakan setiap hari. Puasa bisa dilakukan di hari Senin dan Kamis, atau di bulan-bulan lainnya. Tetapi haji hanya ada sekali setahun, dengan puncaknya pada 9 Zulhijah di Padang Arafah. Begitu pula kurban—hanya sah disembelih di hari raya dan hari tasyrik, tidak di waktu lain.

Dua ibadah eksklusif itu menjadi penanda bahwa Zulhijah bukan sekadar bulan biasa. Ia adalah bulan yang Allah pilihkan untuk menghimpun ibadah-ibadah terbesar dalam Islam.

Bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, Buya Yahya mendorong agar tetap mengisi 10 hari ini dengan sepenuh hati. Anjurannya konkret dan bisa langsung diterapkan: perbanyak tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir. Ucapkan subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahu akbar sebanyak-banyaknya setiap hari. Beliau bahkan mendorong jamaah untuk memasang target harian—minimal 100 kali, lebih banyak tentu lebih baik.

Selawat kepada Nabi Muhammad juga masuk dalam amalan yang dianjurkan, sebab ia termasuk bagian dari amal saleh yang nilainya terus mengalir.

Puasa sunah di 10 awal Zulhijah sangat dianjurkan, terutama puasa Arafah pada tanggal 9. Buya Yahya mengingatkan dengan nada humor namun serius: jangan sampai seseorang berpuasa di hari-hari awal lalu berhenti justru saat puncaknya tiba. Kalau hanya mampu berpuasa satu hari, pilihlah tanggal 9. Kalau mampu lebih, tambahkan hari-hari sebelumnya. Dan ingat—tanggal 10 Zulhijah adalah Iduladha, hari yang dilarang untuk berpuasa.

Sedekah pun mendapat perhatian khusus. Buya Yahya mengingatkan agar sedekah tidak hanya diarahkan ke orang-orang yang jauh atau yang kita sukai. Justru, memberikan sedekah kepada kerabat dekat yang sedang ada masalah dengannya—bibik tetangga sebelah, saudara yang lama tidak disapa—memiliki pahala yang berlipat ganda. Ada dua kebaikan sekaligus di sana: melawan hawa nafsu dan menyambung tali silaturahmi yang sempat putus.

Beliau juga menyinggung soal perdamaian dalam hubungan keluarga. Momen 10 awal Zulhijah ini, katanya, adalah waktu terbaik untuk meluruskan kembali hubungan yang renggang—antara suami dan istri, antara saudara yang berselisih, antara tetangga yang lama bermusuhan. Kebaikan apa pun yang dilakukan di hari-hari ini akan mendapat nilai lebih dari biasanya.

Bagi yang belum memiliki rencana kurban, Buya Yahya menganjurkan untuk setidaknya pergi ke pasar hewan, melihat-lihat, dan membayangkan. Dari niat yang tumbuh di hati, kata beliau, bisa lahir tekad yang akhirnya terwujud. Dan dari kurban, pintu menuju haji pun bisa terbuka—karena keduanya lahir dari semangat yang sama: menyerahkan yang terbaik untuk Allah.

Pesan besar dari ceramah ini sesungguhnya sederhana: 10 awal Zulhijah adalah musim panen pahala, namun belum banyak Muslim yang menyadarinya. Di kota-kota besar, orang ramai mengisi 10 malam Ramadan dengan iktikaf dan tadarus. Tapi ketika Zulhijah tiba, suasananya jauh lebih sepi—padahal keutamaannya tidak lebih kecil.

Buya Yahya mengajak agar umat Islam mulai membudayakan penghidupan 10 awal Zulhijah, sebagaimana mereka menghidupkan Ramadan. Bisa dimulai dari program kajian subuh, majelis zikir pagi, atau sekadar komitmen pribadi untuk berpuasa dan memperbanyak bacaan tasbih setiap harinya.

Tidak perlu menunggu momen besar. Mulailah dari yang kecil: satu sedekah, satu rakaat sunnah tambahan, satu ucapan subhanallah yang lebih khusyuk dari biasanya. Karena di 10 hari terbaik sepanjang tahun ini, bahkan langkah kecil pun bisa bernilai besar di sisi-Nya.

FAQ

Mengapa 10 awal Zulhijah disebut hari terbaik dalam setahun? Berdasarkan hadis sahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah menyatakan bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah melebihi 10 hari pertama Zulhijah. Di dalamnya terdapat ibadah haji dan kurban yang tidak bisa dilakukan di waktu lain.

Amalan apa yang paling dianjurkan selama 10 awal Zulhijah? Memperbanyak tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (lailahaillallah), dan takbir (allahu akbar); berpuasa terutama pada tanggal 9 Zulhijah (Puasa Arafah); bersedekah; memperbanyak salat sunah; serta menyembelih hewan kurban bagi yang mampu.

Apakah boleh berpuasa pada tanggal 10 Zulhijah? Tidak boleh. Tanggal 10 Zulhijah adalah Hari Raya Iduladha, dan berpuasa pada hari raya hukumnya haram. Puasa sunah hanya dianjurkan dari tanggal 1 hingga 9 Zulhijah, dengan puncaknya pada tanggal 9 (Hari Arafah).



Follow Widget