RINGKASAN

  1. Manusia memiliki kebiasaan untuk baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, padahal hidup ini penuh dengan pemberian yang patut disyukuri setiap hari.
  2. Nikmat yang paling dekat seperti kemampuan melihat, mendengar, dan bergerak sering kali terlupakan karena dianggap biasa, padahal semuanya adalah titipan.
  3. Shalat adalah bentuk terima kasih paling sederhana atas segala nikmat yang diberikan Allah, bukan karena Allah membutuhkannya, tetapi karena manusia sendiri yang perlu diingatkan.
  4. Kesenangan duniawi sering kali menyita waktu berjam-jam, namun manusia merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat, padahal semua aktivitas duniawi itu bisa dijalani karena nikmat dari Allah.
  5. Shalat berfungsi sebagai pengingat untuk merendah, mengakui ketergantungan kepada Allah, dan bersyukur atas nikmat-nikmat sederhana yang sering terabaikan, terutama di saat hidup sedang baik-baik saja.
BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWAJAZIRAH – Manusia punya kebiasaan aneh, baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya. Selama mata bisa melihat, kaki bisa melangkah, dan tangan bisa bergerak, semua itu terasa sudah semestinya ada—bukan karunia yang perlu disyukuri setiap hari.

Padahal kalau mau berhenti sebentar dan berpikir, hidup ini sesungguhnya penuh dengan pemberian yang tidak pernah berhenti datang. Bangun pagi saja sudah nikmat yang luar biasa. Tidak semua orang yang menutup mata malam ini akan membukanya lagi esok hari. Ada yang masih punya rencana panjang, masih punya keluarga yang menunggu, masih punya mimpi yang belum selesai dikejar—tapi ternyata waktu mereka sudah habis. Sementara kita masih diberi kesempatan untuk bangun, bernapas, dan melanjutkan hari.

Nikmat yang paling dekat justru paling mudah terlupakan. Karena setiap hari ada, lama-lama terasa seperti milik sendiri. Padahal mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, kaki yang bisa melangkah—semuanya bukan milik mutlak manusia. Semuanya hanya titipan.

Ambil contoh sariawan. Kelihatannya sepele, hanya luka kecil di sudut mulut. Tapi dari luka sekecil itu, makan jadi tidak nyaman, minum terasa perih, dan makanan pedas yang biasanya dinikmati mendadak seperti ujian. Dari satu sariawan saja, manusia bisa sadar bahwa nikmat makan bukan sekadar soal punya makanan. Ada nikmat mulut yang sehat, lidah yang bisa merasa, gigi yang bisa mengunyah, dan tenggorokan yang bisa menelan—semua bekerja bersama tanpa pernah diminta.

Itu baru sariawan. Belum kalau tubuh tiba-tiba tidak bisa berdiri, mata mulai buram, atau napas terasa berat. Nikmat yang selama ini dianggap kecil ternyata bisa mengubah hidup secara total ketika Allah mengambilnya sedikit saja.

Maka tidak perlu menunggu kehilangan untuk sadar bahwa selama ini sudah terlalu banyak diberi. Tidak perlu menunggu sakit untuk mengerti bahwa sehat itu mahal. Tidak perlu menunggu tubuh melemah untuk paham bahwa bisa bergerak bebas adalah karunia yang tidak ternilai.

Setiap hari, ada daftar panjang hal yang masih diberikan. Masih bisa makan. Masih bisa bekerja. Masih bisa pulang ke rumah. Masih bisa melihat senyum orang-orang tersayang. Masih bisa tidur meski hari terasa melelahkan. Dan masih bisa bangun lagi untuk memperbaiki apa yang kemarin belum sempat diselesaikan.

Lalu setelah semua itu diberikan, bentuk terima kasih paling sederhana seperti apa? Salah satunya adalah shalat. Allah sebenarnya tidak butuh terima kasih dari manusia. Allah tetap Maha Besar, baik manusia bersyukur maupun lalai. Yang membutuhkan pengingat itu manusia sendiri. Yang perlu sadar diri bahwa hidup ini bukan milik sendiri juga manusia sendiri.

Shalat adalah cara paling sederhana untuk mengakui semua itu. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu masalah selesai. Tidak perlu menunggu hati benar-benar tenang atau hidup terasa rapi dan sempurna. Shalat bisa dilakukan kapan saja—saat lapang maupun sempit, saat hati senang maupun berat.

Kadang shalat terasa berat bukan karena gerakannya sulit, tapi karena hati terlalu penuh dengan urusan dunia. Sibuk mengejar pekerjaan, membalas pesan, membuka media sosial, memikirkan target, membandingkan hidup dengan orang lain di layar. Sampai lupa bahwa semua kesibukan itu pun bisa dijalani karena Allah masih memberi nikmat untuk menjalaninya.

Bisa bekerja karena tubuh masih kuat. Bisa mencari rezeki karena pikiran masih berjalan. Bisa mengejar impian karena kesempatan masih terbuka. Maka terasa ganjil ketika manusia sanggup menghabiskan berjam-jam untuk urusan dunia, tapi merasa keberatan menyisihkan beberapa menit untuk shalat.

Dalam sehari ada dua puluh empat jam. Dari seluruh waktu itu, yang diminta hanyalah berhenti sejenak—berdiri, rukuk, sujud, dan mengingat kembali siapa yang memberi semua ini. Tapi justru yang sebentar itu sering ditunda. Yang sebentar itu sering dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat juga pengingat yang terus berulang. Saat berdiri, manusia diingatkan bahwa kaki ini masih kuat menopang tubuh. Saat membaca bacaan shalat, manusia diingatkan bahwa lisan ini masih bisa bergerak. Saat rukuk dan sujud, manusia diingatkan bahwa tubuh ini masih mampu tunduk. Saat berdoa, manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun usaha, tetap saja hidup bergantung kepada Allah.

Dalam sujud, manusia belajar merendah. Di luar shalat, manusia sering ingin terlihat hebat, ingin dihargai, ingin diakui. Tapi dalam sujud, kepala diletakkan di tempat paling rendah. Di situlah pengingat yang paling jujur: setinggi apa pun posisi di dunia, di hadapan Allah manusia tetaplah hamba.

Sayangnya, banyak orang baru benar-benar mengingat Allah ketika hidup sedang sulit. Saat masalah datang bertubi-tubi, shalat mulai diperbaiki. Saat jalan terasa buntu, Allah mulai disebut dengan lebih sungguh-sungguh. Itu tetap lebih baik daripada tidak kembali sama sekali. Tapi alangkah baiknya kalau shalat tidak hanya dijaga saat hidup sedang susah, melainkan juga—dan justru terutama—saat hidup sedang baik-baik saja.

Karena bersyukur bukan hanya ketika mendapat hal besar. Bukan hanya ketika rezeki bertambah atau doa terkabul. Bersyukur juga perlu dilakukan saat hari berjalan biasa saja. Tidak ada kabar buruk saja sudah nikmat. Bisa makan dengan tenang saja sudah nikmat. Bisa pulang dengan selamat saja sudah nikmat.

Media sosial juga sering membuat rasa syukur semakin kabur. Setiap hari terlihat hidup orang lain yang tampak lebih indah—ada yang liburan, ada yang membeli rumah, ada yang usahanya berkembang pesat. Akhirnya hati mudah merasa kurang. Nikmat sendiri terasa kecil karena terlalu sering melihat nikmat orang lain. Padahal yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari hidup seseorang, bukan keseluruhan ceritanya.

Di tengah hidup yang mudah membuat manusia lupa, shalat menjadi tempat untuk kembali sadar. Shalat mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal mengejar dan meminta lebih, tapi juga soal pulang dan mengakui bahwa selama ini sudah banyak sekali diberi.

Kalau shalat masih sering bolong, jangan malah menjauh. Kalau masih sering terlambat, perbaiki pelan-pelan. Kalau masih terasa berat, tetap paksa diri untuk mulai. Tidak perlu menunggu sempurna untuk kembali kepada Allah. Justru dengan shalat, hati dilatih untuk menjadi lebih baik sedikit demi sedikit.

Allah tahu siapa yang sedang berusaha. Allah tahu siapa yang sedang melawan malasnya sendiri. Allah tahu siapa yang sedang mencoba kembali setelah lama lalai. Yang penting jangan sengaja menjauh. Jangan merasa nanti saja. Jangan menunggu tua, menunggu sakit, atau menunggu kehilangan. Sebab tidak ada yang tahu sampai kapan kesempatan ini diberikan.

Selagi napas masih lancar, mata masih bisa melihat, kaki masih bisa melangkah, dan tubuh masih kuat berdiri—jangan tinggalkan shalat. Jadikan shalat sebagai bentuk terima kasih yang paling sederhana. Terima kasih karena hari ini masih diberi kesempatan. Terima kasih karena masih diberi sehat. Terima kasih karena masih bisa makan, bekerja, dan melihat orang-orang tersayang.

Berterima kasih kepada Allah tidak perlu dibuat rumit. Lakukan apa yang diperintahkan. Mulai dari menjaga shalat. Sebab shalat bukan hanya tanda taat, tapi juga tanda bahwa manusia masih tahu diri—sudah terlalu banyak menerima, maka jangan terlalu berat untuk bersyukur.

Yang berat sering kali bukan shalatnya, tapi melawan diri sendiri yang terlalu nyaman menunda. Maka pelan-pelan, jangan tinggalkan shalat lagi. Jadikan ia cara paling sederhana untuk mengakui bahwa hidup ini bukan milik sendiri, dan semua yang ada pada diri ini adalah pemberian dari Allah—yang tidak pernah berhenti memberi, bahkan saat manusia lupa untuk berterima kasih.

FAQ

Mengapa manusia sering tidak menyadari nikmat yang sudah dimiliki? Karena nikmat yang hadir setiap hari cenderung dianggap biasa dan diterima begitu saja, sampai salah satunya terganggu atau hilang. Baru saat itulah kesadaran muncul bahwa apa yang selama ini ada bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya.

Apa hubungan antara shalat dan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari? Shalat berfungsi sebagai pengingat rutin yang membantu manusia kembali sadar akan semua nikmat yang telah diterima. Setiap gerakan dalam shalat secara tidak langsung mengingatkan bahwa tubuh, pikiran, dan waktu yang digunakan untuk menjalani hari adalah pemberian yang tidak bisa dianggap remeh.

Bagaimana cara membangun kebiasaan shalat yang konsisten di tengah kesibukan? Mulai dari yang kecil dan jangan menunggu kondisi sempurna. Shalat tidak membutuhkan waktu yang lama, dan justru dalam kesibukannya manusia paling membutuhkan jeda untuk mengingat kembali tujuan dan sumber dari semua yang sedang dikejar.



Follow Widget