BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWANEWS, Dalam setiap kesempatan hidup yang masih Allah berikan, selama matahari masih terbit dan terbenam untuk kita, ada satu hal penting yang sering kali kita abaikan: muhasabah diri. Ustadz Adi Hidayat mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar berjalan dari hari ke hari, tetapi kesempatan untuk mengumpulkan amal saleh dan memperbaiki kesalahan sebelum terlambat.

Tidak ada manusia yang sempurna. Selama kita bukan nabi dan rasul, maka kesalahan adalah bagian dari kehidupan. Bahkan seorang ustadz pun tidak luput dari salah dan khilaf. Karena itu, Ustadz Adi menasihati agar kita belajar dari siapa pun, ambil kebaikannya, dan tinggalkan yang tidak sesuai, tanpa harus mencela apalagi menghakimi. Menghakimi orang lain hanya akan menambah beban kita kelak di hadapan Allah.

Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang yang mau belajar dari kesalahan dan bertumbuh dalam ketakwaan. Allah bahkan mencintai hamba-Nya yang berdosa tetapi gemar bertaubat, lebih daripada orang yang merasa dirinya selalu benar dan tak pernah merasa bersalah.

Setiap manusia punya masa lalu. Kesalahan yang pernah terjadi bukan untuk disangkal, tetapi untuk disadari dan diperbaiki. Dalam banyak keadaan, Allah menghadirkan musibah atau ujian kecil sebagai bentuk kasih sayang-Nya, agar manusia terbangun dan memperbaiki jalan hidupnya. Jika setelah musibah kita berubah menjadi lebih baik, itulah tanda cinta Allah yang sesungguhnya.

Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an, Surah Az-Zumar ayat 53, bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama hamba-Nya mau kembali dan berharap kepada rahmat-Nya. Jangan pernah berputus asa dari kasih sayang Allah, sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan.

Muhasabah juga mengajarkan kita untuk tidak gemar menyalahkan orang lain. Ketika anak berbuat salah, jangan buru-buru menyalahkan anak atau guru. Orang tua perlu bercermin lebih dulu: sudahkah kita mendidik, hadir, dan bertanggung jawab sepenuhnya? Kesalahan sering kali adalah cermin dari kelalaian kita sendiri.

Ustadz Adi mengingatkan, istigfar seharusnya dilakukan sebelum musibah besar datang. Selagi masih hidup, kesalahan masih bisa diedit: ucapan diperbaiki, perilaku diubah, dan niat diluruskan. Karena ketika kematian datang, semua kesempatan itu tertutup. Apalagi ketika tiba hari kiamat, penyesalan tak lagi berguna.

Tanda taubat yang diterima Allah bukan sekadar air mata, tetapi perubahan nyata dalam perilaku. Orang yang benar-benar bertaubat akan meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amal saleh. Itulah makna “taaba wa ‘amila shalihan” yang sering diulang dalam Al-Qur’an: taubat yang diiringi perbaikan hidup.

Namun setelah bertaubat, jangan lagi sibuk mengungkit dosa masa lalu. Itu adalah pintu yang sering digunakan setan untuk melemahkan iman, dengan membisikkan bahwa dosa kita terlalu besar untuk diampuni. Jika Allah sudah mengampuni, maka tugas kita adalah melanjutkan kebaikan dan menutup masa lalu dengan amal saleh.

Setiap kali kita melihat matahari terbit, jadikan itu pengingat untuk bersyukur. Syukur atas hidup, atas kesempatan, dan atas peluang untuk kembali kepada Allah. Persiapkan bekal terbaik untuk pulang kepada-Nya. Dengan begitu, kapan pun ajal datang, kita telah siap—bukan karena merasa suci, tetapi karena terus berusaha memperbaiki diri.