BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Kita sering kali tenggelam dalam kesibukan duniawi, mencari-cari makna dan tujuan hidup tanpa kembali kepada sumber petunjuk utama: Al-Qur’an. Dalam kitab suci, Allah SWT telah dengan jelas menunjukkan tujuan fundamental penciptaan manusia.

Menurut Ustaz Adi Hidayat, Al-Qur’an menekankan dua hal pokok yang harus dijaga oleh setiap manusia, khususnya insan beriman, karena inilah akar dari semua tujuan berkehidupan kita di dunia.

Dua tujuan pokok ini harus diwujudkan dalam setiap aktivitas kita, sebab tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk dua hal ini.

Tujuan pokok yang pertama dan paling utama adalah menghamba kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam Q.S. Az-Zariyat [51] ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Makna dari “illa liya’budun” (kecuali untuk beribadah kepada-Ku) bukan sekadar menunaikan ritual formal, tetapi menjadikan semua aktivitas hidup, semua kegiatan kita, sebagai ibadah dan penghambaan kepada Allah.

Ayat ini sekaligus menegaskan identitas kita di hadapan Allah: Kita adalah hamba (makhluk).

Ketika sebuah makhluk bergeser dari fitrah kehidupannya—keluar dari jalur penghambaan—maka ancaman yang diterima sangat tinggi.

Contoh Kasus Azazil:

Azazil (Iblis) adalah makhluk dari kalangan jin yang sangat dihormati di alam langit, bahkan ibadah dan zikirnya tinggi. Namun, ketika ia bergeser dari fitrahnya sebagai hamba dengan menolak perintah Allah, ia jatuh ke dalam kekufuran.

Kita semua pasti akan pulang, meninggal, dan mempertanggungjawabkan penghambaan kita di hadapan Allah SWT.

Bagaimana caranya agar kita senantiasa mengingat identitas kita sebagai hamba?

Al-Qur’an memberikan solusi dan alat utamanya: Shalat.

Allah berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Tunaikanlah salat supaya engkau ingat, engkau itu hamba.” (Lihat Q.S. Taha [20] ayat 14)

Pentingnya Shalat:

  • Para nabi terdahulu, seperti Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Zakaria, dan Nabi Ismail (kakek moyang Nabi Muhammad SAW), semuanya menunaikan shalat. Bahkan Nabi Ismail meminta keluarganya untuk mendirikan shalat (Q.S. Maryam [19] ayat 55).
  • Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perbedaan utama insan beriman yang taat dengan orang yang ingkar di hadapan Allah itu shalatnya.” (Al-Farqu baynal mukmin wal kafir as-shalah).

V. Penutup: Jaga Shalat, Jaga Tujuan Hidup

Shalat adalah pembeda antara keimanan dan kekufuran, sekaligus pengingat harian yang menjaga akar tujuan hidup kita. Dengan menjaga shalat, kita menjaga kesadaran akan identitas kita sebagai hamba, sehingga semua aktivitas kita senantiasa terarah pada tujuan utama: menghamba kepada Allah SWT.

Berdasarkan Tausiyah Ustadz Adi Hidayat