Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, pada kesempatan kajian subuh ini, kita akan merenungkan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam, yaitu peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa luar biasa ini terjadi pada malam tanggal 27 Rajab tahun 621 Masehi, atau 3 tahun sebelum hijrah, ketika Rasulullah ﷺ berusia 51 tahun.
Latar Belakang Peristiwa Isra Mi’raj
Sebelum peristiwa Isra Mi’raj terjadi, Rasulullah ﷺ mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Beliau baru saja ditinggal wafat oleh istri tercinta, Khadijah radhiyallahu ‘anha, dan pamannya yang setia melindungi beliau, Abu Thalib. Kehilangan dua orang yang sangat disayang membuat Rasulullah berduka cita. Karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghibur Rasulullah dengan menganugerahkan perjalanan yang luar biasa ini – sebuah perjalanan yang dimulai dari lepas tengah malam hingga menjelang subuh waktu Mekah.
Persiapan Perjalanan
Pada malam itu, Rasulullah ﷺ sedang berbaring di dekat Ka’bah, di antara pamannya Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib. Tiba-tiba datang tiga malaikat: Jibril, Mikail, dan seorang malaikat lainnya. Mereka membangunkan Rasulullah dan membawanya ke sumur Zamzam.
Di sana, terjadi peristiwa yang menakjubkan. Malaikat Jibril membelah dada Rasulullah dari tenggorokan hingga perut, kemudian mengeluarkan jantungnya dan mencucinya dengan air Zamzam. Segumpal hitam – tempat setan membisikkan waswaswasnya – dibuang dari hati Rasulullah. Kemudian dada beliau dipenuhi dengan hikmah, keimanan, kesabaran, ilmu, keyakinan, dan keislaman. Setelah itu, dada Rasulullah ditutup kembali dan diberi stempel kenabian di antara kedua belikatnya. Yang menakjubkan, seluruh proses ini tidak menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Perjalanan dengan Buraq
Setelah berwudhu, didatangkanlah Buraq – seekor hewan yang putih, panjang, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bagal. Buraq memiliki empat kaki dengan dua sayap pada pahanya, dan dapat meloncat sejauh batas pandangannya. Ketika pertama kali Rasulullah hendak menaikinya, Buraq bertingkah liar. Namun setelah Malaikat Jibril mengingatkannya, “Wahai Buraq, bukankah engkau tahu? Demi Allah, tidak ada makhluk yang lebih mulia dari yang menaikimu ini,” Buraq pun menjadi tenang dan berbaring dengan khusyuk.
Pemandangan Simbolik dalam Perjalanan
Dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis, Rasulullah ﷺ diperlihatkan berbagai pemandangan simbolik yang mengandung pelajaran mendalam:
1. Kaum yang Memakan Daging Busuk
Rasulullah melihat kaum yang di depannya ada daging masak dan daging mentah yang busuk, namun mereka memilih memakan yang busuk. Ini adalah gambaran orang yang memiliki pasangan halal yang baik, tetapi memilih mendatangi yang haram.
2. Kaum yang Membenturkan Kepala ke Batu
Ada kaum yang terus-menerus membenturkan kepalanya ke batu hingga pecah, lalu pulih kembali, dan terus berulang. Ini adalah gambaran siksaan bagi orang yang malas melakukan salat wajib dan sering mengakhirkan waktunya.
3. Kaum yang Makan Makanan Buruk
Rasulullah melihat kaum yang telanjang, hanya kemaluan dan duburnya tertutup kain, memakan kayu berduri busuk, buah zakum yang pahit, dan batu-batu neraka. Mereka adalah gambaran orang yang enggan membayar zakat, baik yang wajib maupun sunah.
4. Laki-laki Mengumpulkan Kayu
Seorang laki-laki terlihat mengumpulkan kayu bakar yang tidak sanggup dibawanya, namun terus menambah. Ini gambaran orang yang memangku tugas atau jabatan secara rangkap tanpa mampu menunaikan amanahnya.
5. Laki-laki Berenang dalam Darah
Ada laki-laki yang berenang di sungai darah sambil menelan batu – gambaran orang yang memakan riba.
6. Kaum yang Menggunting Lidah dan Bibir
Mereka yang mengguntingi lidah dan bibirnya dengan gunting besi secara terus-menerus adalah gambaran para penceramah yang mengkhutbahkan apa yang mereka sendiri tidak melakukannya.
Tiba di Baitul Maqdis
Sesampainya di Baitul Maqdis, Rasulullah mengikat Buraq sebagaimana yang biasa dilakukan para nabi. Di sana, beliau menemui arwah para nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Isa ‘alaihimus salam. Malaikat Jibril berkata, “Orang yang paling mulia dalam pandangan Allah-lah yang memimpin salat.” Maka Rasulullah ﷺ menjadi imam salat berjamaah dua rakaat, diikuti oleh seluruh nabi dan malaikat.
Setelah salat, Rasulullah diberi pilihan antara semangkok susu dan semangkok arak. Rasulullah memilih susu. Malaikat Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah, ya Muhammad. Seandainya engkau mengambil minuman keras, niscaya akan tersesatlah engkau dan umatmu.”
Perjalanan Mi’raj ke Langit
Dari Baitul Maqdis, didatangkan tangga surga yang dipancangkan di atas Sakhrah al-Muqaddasah. Tangga yang terbuat dari emas dan perak berlapis mutiara itu menjulang ke langit, dijaga 400.000 malaikat di kanan, 400.000 di kiri, 1.000 di depan, dan 1.000 di belakang.
Langit Pertama: Rasulullah bertemu Nabi Adam ‘alaihissalam, bapak seluruh manusia. Di sana juga ditunjukkan orang-orang yang memakan harta anak yatim dan wanita-wanita yang memasukkan laki-laki bukan keluarganya ke rumah mereka.
Langit Kedua: Bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘alaihimassalam.
Langit Ketiga: Bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang sangat tampan.
Langit Keempat: Bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihissalam.
Langit Kelima: Bertemu dengan Nabi Harun bin Imran ‘alaihissalam, yang sangat dicintai kaumnya.
Langit Keenam: Bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, yang tinggi, kurus, dan berambut ikal.
Langit Ketujuh: Bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di dekat Baitul Makmur – masjid yang setiap hari dimasuki 70.000 malaikat. Nabi Ibrahim berpesan, “Anjurkanlah umatmu untuk memperbanyak tanaman di surga dengan mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar.”
Melampaui Sidratul Muntaha
Dari langit ketujuh, perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha – sebuah pohon besar dengan daun seperti telinga gajah dan buah sebesar tempayan. Di tempat inilah Malaikat Jibril berkata, “Tempatku cukup di sini. Jika aku melintasi kawasan ini, aku akan terbakar oleh cahaya.”
Rasulullah melanjutkan perjalanan sendirian, melewati 70.000 hijab pembatas yang terbuat dari cahaya, hingga sampai ke ‘Arsy Allah. Di sana, Rasulullah berbicara langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyaksikan keagungan-Nya yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Kewajiban Salat Lima Waktu
Dalam pertemuan dengan Allah ini, diwajibkan kepada umat Muhammad salat 50 kali sehari semalam. Ketika turun, Nabi Musa menyarankan Rasulullah untuk meminta keringanan karena umatnya tidak akan sanggup. Rasulullah kembali menghadap Allah berulang kali hingga akhirnya diturunkan menjadi 5 waktu salat sehari semalam, tetapi pahalanya tetap seperti 50 waktu salat. Setiap salat fardu diganjar dengan 10 ganjaran.
Kepulangan dan Pembuktian
Rasulullah kembali ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan pulang, beliau melewati kafilah Quraisy yang datang dari Syam. Ada seekor unta yang terkejut melihat Buraq hingga kakinya patah. Rasulullah juga meminum air dari mangkok milik kafilah tersebut.
Keesokan harinya, ketika Rasulullah menceritakan peristiwa Isra Mi’raj, banyak orang Quraisy yang mengejek dan mendustakannya. Mereka bertanya detail tentang Baitul Maqdis. Allah kemudian memperlihatkan Baitul Maqdis dari jauh sehingga Rasulullah dapat menceritakan dengan sangat rinci dan teliti.
Beberapa Muslim yang lemah imannya bahkan murtad setelah mendengar cerita ini. Namun Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata dengan tegas, “Jika Rasulullah mengatakannya, maka itu semua benar dan aku percaya kepadanya.” Sejak itu, Abu Bakar diberi gelar “Ash-Shiddiq” (orang yang sangat membenarkan).
Bukti kebenaran perjalanan Rasulullah terbukti ketika kafilah yang disebutkan beliau benar-benar tiba dengan kondisi persis seperti yang diceritakan – ada unta berpunuk dua dengan warna coklat tua dan belang-belang, salah satu unta terluka, dan air minum mereka berkurang.
Hikmah dan Pelajaran
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan kita banyak pelajaran:
- Keimanan kepada Yang Ghaib: Kita harus beriman kepada kuasa Allah yang melampaui akal manusia.
- Pentingnya Salat: Kewajiban salat diberikan langsung dari Allah di langit, menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini.
- Konsekuensi Perbuatan: Berbagai pemandangan simbolik mengingatkan kita akan balasan perbuatan kita di akhirat.
- Kemuliaan Rasulullah: Beliau adalah satu-satunya manusia yang diperkenankan melampaui Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah.
- Kesabaran dalam Ujian: Sebelum kemuliaan Isra Mi’raj, Rasulullah mengalami kesedihan mendalam. Allah menghibur hamba-Nya yang sabar.
Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan fisik yang nyata, bukan mimpi atau perjalanan ruh saja. Buktinya adalah pembedahan dada Rasulullah, penggunaan Buraq, ikatan Buraq di Baitul Maqdis, dan bukti-bukti fisik lainnya yang dapat diverifikasi.
Wallahu a’lam bishawab.
Mari kita tutup kajian subuh ini dengan memperbanyak selawat kepada Rasulullah ﷺ dan bertekad untuk menjaga salat lima waktu yang merupakan hadiah langsung dari perjalanan mulia beliau.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keimanan kita. Tuliskan hajat dan doa Anda di hati, semoga Allah mengabulkan semua hajat yang baik. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan