BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Meluruskan Logika Beragama: Mengapa Orang Baik Tetap Diuji?

Banyak orang yang baru berhijrah, mulai rajin shalat, rutin bersedekah, dan tekun berzikir, namun tiba-tiba merasa kecewa. Di dalam hatinya muncul pertanyaan yang berbahaya: “Mengapa setelah saya bertaubat, hidup saya justru semakin sulit? Mengapa rezeki saya tidak lancar, sementara mereka yang tidak sujud kepada Allah hidupnya terlihat jauh lebih makmur?”

Jika pertanyaan ini terlintas di benak kita, itu tandanya ada yang salah dengan cara berpikir kita dalam berislam.

1. Berhenti Berpikir Salah (Wrong Thinking)

Islam mengajarkan kita untuk memiliki pola pikir yang benar (Right Thinking). Berhijrah dan beribadah bukan berarti “tiket gratis” untuk lepas dari ujian dunia. Jangan sampai amal ibadah kita berhenti hanya karena kita merasa Allah tidak adil.

Ingatlah, ujian bukan berarti Allah benci, dan kemudahan bukan berarti Allah sayang. Justru mereka yang paling dicintai Allah adalah yang paling berat ujiannya.

2. Belajar dari Kisah Para Nabi

Allah SWT berfirman, “Faaksusil qasasah”—ceritakanlah kisah-kisah itu. Jika kita merasa beban hidup kita berat, lihatlah para nabi:

  • Nabi Ayyub AS: Diuji dengan penyakit kulit yang dahsyat, kehilangan seluruh anak, dan harta yang ludes. Namun, ia malu meminta kesembuhan karena merasa nikmat yang Allah beri sebelumnya jauh lebih lama.
  • Nabi Yunus AS: Diuji dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya dasar laut, dan gelapnya perut ikan. Ia tidak protes, melainkan mengaku dosa: “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin.”
  • Nabi Muhammad SAW: Dilempari batu di Thaif hingga berdarah, diusir dari tanah kelahiran, dan dimusuhi keluarga sendiri. Beliau adalah manusia paling mulia, namun ujiannya paling hebat.

3. Dunia Adalah Ruang Ujian

Ujian tidak selalu berbentuk kemiskinan atau penyakit. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menguji manusia dengan dua hal: keburukan dan kebaikan (wa nablukum bilsyarri wal khairi fitnah).

  • Ujian Kekayaan: Sebagaimana Nabi Sulaiman AS, apakah hartanya membuat ia sombong atau justru semakin dermawan?
  • Ujian Jabatan: Sebagaimana Nabi Daud AS, apakah kekuasaannya digunakan untuk mendekat pada Allah atau melupakan-Nya?
  • Ujian Ketampanan: Sebagaimana Nabi Yusuf AS, apakah fisik yang sempurna membuatnya terjerumus maksiat atau tetap menjaga kehormatan?

4. Kunci Menghadapi Ujian: Syukur, Sabar, dan Ridha

Hanya ada dua respon bagi seorang mukmin yang benar:

  1. Jika diberi nikmat, ia bersyukur. Syukur bukan sekadar ucapan, tapi menggunakan nikmat tersebut di jalan Allah.
  2. Jika diberi musibah, ia bersabar. Sabar bukan berarti diam berpangku tangan. Ahlussunnah wal Jamaah mengajarkan kita untuk tetap berusaha (ikhtiar). Namun, setelah usaha maksimal dilakukan dan hasil belum sesuai, di sanalah letak ketetapan Allah yang harus kita terima.

Puncak tertinggi dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah Ridha. Ridha berarti menerima apapun ketetapan Allah dengan lapang dada. “Roditu billahi rabba”—aku ridha Allah sebagai Tuhanku, baik saat Ia memberiku kesehatan maupun saat Ia memberiku sakit.

Kesimpulan

Jangan sampai kita menjadi “Muslim bersyarat”—yang hanya mau menyembah Allah saat senang, tapi berpaling saat susah. Ingatlah nasehat UAS: “Allah itu Maha Kuasa, Dia tidak punya atasan, dan Dia bertindak sesuai kehendak-Nya yang pasti mengandung kebaikan bagi hamba-Nya yang husnuzzan (berprasangka baik).”

Jika ujian terasa berat, angkatlah tanganmu. Katakan “Allahu Akbar”—Allah Maha Besar, dan masalahmu ini kecil di mata-Nya. Kembalilah berserah diri (taslim), karena itulah hakikat sejati dari seorang Muslim.