BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Tradisi buka puasa bersama atau yang akrab disapa “bukber” ternyata telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia. Fakta ini masih belum banyak diketahui masyarakat luas, meski hampir setiap Muslim Indonesia merayakan momen kebersamaan ini saat Ramadan tiba.

Pengakuan internasional tersebut disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam keterangannya pada Jumat (6/3). Menurut Mu’ti, bukber merupakan fenomena budaya yang tumbuh dari ekspresi keberagamaan umat Islam di seluruh dunia, membuktikan bagaimana nilai-nilai agama mampu melahirkan tradisi yang diterima luas dalam kehidupan bermasyarakat.

“Indonesia memberikan kontribusi luar biasa bagi peradaban dunia. Tradisi bukber bukan sekadar memperkaya khazanah Islam di Tanah Air, melainkan telah menjadi bagian dari warisan budaya umat manusia,” tegas Mu’ti.

Tradisi Lintas Negara dengan Keunikan Masing-masing

Bukber ternyata bukan monopoli Indonesia. Sejumlah negara berpenduduk Muslim seperti Turki, Uzbekistan, dan Azerbaijan juga mengenal praktik serupa. Namun, setiap negara memiliki ciri khas dalam pelaksanaannya.

“Perbedaan corak pelaksanaan bukber di berbagai negara mencerminkan bagaimana budaya menjadi cerminan pandangan hidup masyarakat setempat. Nilai-nilai agama berpadu dengan konteks sosial, budaya lokal, serta kondisi geografis dan historis masing-masing,” papar Mu’ti.

Akar Religius yang Menginspirasi

Mu’ti menelusuri akar tradisi ini hingga ke sumber ajaran Islam. Menurutnya, agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual, tetapi juga menjadi inspirasi penciptaan budaya yang hidup dalam keseharian umat.

Ia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan—kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya karena ibadah puasanya.”

Selain itu, hadis riwayat Tirmidzi juga menegaskan keutamaan memberi makan orang yang berpuasa: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, baginya pahala setara dengan pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala si pemula sedikitpun.”

Dari landasan teologis inilah, praktik sosial buka puasa bersama berkembang dan meluas di kalangan umat Islam hingga kini.

Bukber ala Indonesia: Melampaui Batas Agama

Yang menarik, di Indonesia, tradisi bukber telah melampaui sekat-sekat keagamaan. Bukan hanya umat Islam, pemeluk agama lain pun kerap terlibat dalam momen kebersamaan ini, menjadikannya sebagai ruang silaturahmi lintas iman di tengah kemajemukan bangsa.

“Bukber di Indonesia sudah menjadi milik semua. Bahkan saudara-saudara kita dari agama lain turut meramaikan dan menyelenggarakan acara ini sebagai ajang berkumpul, berbagi kegembiraan, dan mempererat persaudaraan,” ujar Mu’ti.

Oleh karena itu, Mu’ti menyebut fenomena ini sebagai wujud nyata “vernakularisasi Islam”—ketika ajaran agama dipraktikkan dalam kehidupan nyata dengan ekspresi budaya yang khas sesuai konteks lokal.

“Inilah bukti bahwa ketika agama didekati secara kultural, ia mampu melahirkan tradisi yang inklusif, diterima semua lapisan masyarakat, dan memperkaya khazanah kebudayaan bangsa,” tutup Sekjen PP Muhammadiyah ini.