RINGKASAN
- 1 Muharram, penanda awal tahun baru dalam kalender Hijriah, memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, berbeda dari perayaan tahun baru Masehi yang bersifat meriah.
- Kalender Hijriah lahir pada masa Khalifah Umar bin Khattab sebagai solusi atas kebingungan penanggalan, dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai titik awal.
- Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan simbol keberanian, strategi, dan kepercayaan penuh kepada Allah SWT, serta merupakan momen pembangunan masyarakat dan fondasi peradaban Islam.
- Bulan Muharram memiliki keistimewaan sebagai 'bulan yang diharamkan' atau 'disucikan', di mana amal kebaikan dilipatgandakan namun dosa perbuatan buruk juga lebih berat timbangannya.
- Amalan utama di bulan Muharram meliputi puasa sunnah (terutama Asyura dan Tasu'a), sedekah, membaca Al-Quran, zikir, dan mempererat silaturahmi, serta menjadikannya momentum untuk introspeksi diri (muhasabah) dan menyusun resolusi spiritual.
JAZIRAH – Bagi sebagian orang, pergantian tahun identik dengan pesta kembang api dan hiruk-pikuk malam 31 Desember. Namun bagi umat Islam, ada momen yang jauh lebih sarat makna: 1 Muharram, penanda awal tahun baru dalam kalender Hijriah yang lahir dari peristiwa bersejarah dan penuh nilai spiritual.
Berbeda dari perayaan tahun baru Masehi yang bersifat meriah dan serba hiburan, 1 Muharram justru mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan memperbarui komitmen kepada Allah SWT. Momen ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan undangan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Kalender Hijriah tidak muncul begitu saja. Sistem penanggalan Islam ini lahir dari kebutuhan nyata pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, sekitar 17 tahun setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi.
Pemicunya sederhana namun nyata: sebuah dokumen resmi yang diterima Khalifah Umar hanya mencantumkan nama bulan “Sya’ban” tanpa keterangan tahun. Dokumen itu menimbulkan kebingungan—apakah Sya’ban yang dimaksud sudah lewat, sedang berjalan, atau belum tiba. Di saat hampir bersamaan, Gubernur Basra, Abu Musa Al-Asy’ari, juga mengirim surat protes karena sulitnya mengarsipkan korespondensi pemerintahan tanpa sistem penanggalan yang baku.
Umar bergerak cepat. Ia mengumpulkan para sahabat terkemuka—Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya—untuk merumuskan kalender resmi umat Islam. Setelah musyawarah panjang, disepakati bahwa penanggalan Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi SAW. Maka 1 Muharram pun ditetapkan sebagai awal tahun baru Islam, sebuah keputusan yang bertahan hingga lebih dari empat belas abad kemudian.
Hijrah sendiri bukan sekadar perpindahan fisik. Ketika Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq meninggalkan Makkah menuju Madinah, mereka menapaki jalan berbahaya di bawah ancaman pembunuhan. Di balik perjalanan itu tersimpan keberanian luar biasa, strategi yang matang, dan kepercayaan penuh kepada Allah SWT.
Di Madinah, Nabi SAW tidak hanya membangun masjid. Beliau membangun masyarakat. Piagam Madinah lahir sebagai dokumen politik pertama yang mengatur kehidupan bersama lintas suku dan agama secara adil. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar memang menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman—sebuah pelajaran yang relevan sepanjang zaman.
Kata “Muharram” dalam bahasa Arab berarti “yang diharamkan” atau “yang disucikan.” Bahkan sebelum Islam datang, bangsa Arab Jahiliah pun sudah menghormati bulan ini sebagai waktu damai—peperangan dilarang dan pertumpahan darah dianggap pantang.
Dalam Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 36. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai “Syahrullah”—Bulan Allah—sebuah penisbatan yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya.
Di bulan ini, pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Namun demikian, dosa atas perbuatan buruk juga lebih berat timbangannya. Maka Muharram bukan waktu untuk bersantai, melainkan momentum terbaik untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi kemaksiatan.
Salah satu amalan paling utama di bulan Muharram adalah puasa. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai puasa paling utama setelah Ramadan. Secara khusus, puasa Asyura pada 10 Muharram diyakini dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Para ulama juga menganjurkan puasa Tasu’a pada 9 Muharram sebagai pelengkap.
Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak sedekah, membaca Al-Quran, berzikir, dan mempererat tali silaturahmi. Membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun juga menjadi tradisi yang lazim dipraktikkan—memohon agar amal di tahun lalu diterima dan tahun baru dibuka dengan keberkahan.
Indonesia, dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki cara unik dalam menyambut 1 Muharram. Beragam tradisi lokal berpadu dengan nilai-nilai Islam, menciptakan ekspresi budaya yang khas dan kaya.
Di tanah Jawa, bulan Muharram dikenal sebagai “Bulan Suro.” Masyarakat menggelar tirakatan—malam renungan yang diisi dengan dzikir, pembacaan Al-Quran, dan doa bersama. Keraton Yogyakarta dan Surakarta menggelar kirab budaya yang megah, mengirab pusaka-pusaka kerajaan sebagai simbol penghormatan dan permohonan keselamatan.
Di Pariaman, Sumatera Barat, ada tradisi Tabuik yang tak ada duanya. Masyarakat membuat menara kayu berhias yang melambangkan jenazah Husein bin Ali, cucu Nabi SAW, kemudian mengusungnya dalam prosesi panjang sebelum dilarung ke laut. Ritual ini memadukan duka sejarah dengan ekspresi budaya yang kini juga menjadi daya tarik wisata.
Di berbagai penjuru negeri, tradisi membuat dan membagikan Bubur Asyura juga hidup subur. Bubur yang terbuat dari campuran berbagai kacang dan biji-bijian ini menjadi simbol syukur dan solidaritas—filosofi persatuan dalam satu mangkuk sederhana. Masjid dan musala pun ramai dengan pengajian akbar dan doa bersama untuk keselamatan bangsa.
Tahun baru Islam secara hakiki berbeda dari perayaan 1 Januari. Pergantian tahun Masehi kerap dirayakan dengan gegap gempita, kembang api, dan pesta hingga dini hari. Sementara 1 Muharram mengajak pada muhasabah—introspeksi mendalam tentang apa yang sudah dikerjakan dan apa yang perlu diperbaiki.
Ini bukan berarti Islam melarang kegembiraan. Namun kegembiraan yang paling bermakna adalah kegembiraan yang tumbuh dari kedekatan dengan Allah, bukan sekadar keramaian sesaat yang berlalu tanpa bekas.
Jika biasanya resolusi tahun baru dibuat di awal Januari, tidak ada salahnya menjadikan 1 Muharram sebagai momentum yang sama—bahkan lebih tepat. Menyusun target ibadah: salat lebih tepat waktu, memperbanyak sedekah, tilawah setiap hari. Merencanakan langkah spiritual: mengikuti kajian rutin, berpuasa sunnah, dan mempererat hubungan dengan sesama.
Tuliskan resolusi itu. Letakkan di tempat yang mudah terlihat. Dan yang paling penting—doakan agar Allah memudahkan setiap langkahnya.
1 Muharram bukan hanya tanggal di kalender. Ia adalah cermin waktu yang mengajak setiap Muslim untuk hijrah—bukan melintasi gurun seperti Nabi SAW, tapi hijrah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari diri yang lama menuju diri yang lebih baik.
Semangat hijrah itulah yang seharusnya hidup dan terasa di setiap pergantian tahun Hijriah.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan 1 Muharram dalam kalender Islam? 1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah, yang menandai awal tahun baru Islam. Penanggalan ini ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun.
Apa saja amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram? Amalan utama di bulan Muharram meliputi puasa Asyura pada 10 Muharram dan puasa Tasu’a pada 9 Muharram, memperbanyak sedekah, membaca Al-Quran dan berzikir, membaca doa akhir dan awal tahun, serta mempererat silaturahmi dengan keluarga dan sesama.
Mengapa peristiwa Hijrah dijadikan dasar kalender Islam? Para sahabat yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab memilih peristiwa hijrah sebagai tonggak kalender Islam karena hijrah merupakan titik balik terpenting dalam sejarah Islam—momen ketika Nabi SAW membangun komunitas Muslim pertama di Madinah dan meletakkan fondasi peradaban Islam.

Tinggalkan Balasan