PUNGGAWANEWS, PADANG – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan modern, masyarakat Minangkabau tetap mempertahankan tradisi leluhur yang sarat makna. Setiap Ramadan, tradisi buka basamo (buka puasa bersama) menjadi momentum istimewa untuk mempererat tali silaturahmi di masjid, surau, dan balai nagari.
Masjid Al-Hakim yang berlokasi di pesisir pantai Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, menjadi salah satu pusat kegiatan buka basamo dengan skala besar. Masjid bernuansa putih yang kerap dijuluki “Taj Mahal-nya Indonesia” ini rutin menyajikan hingga 1.000 porsi hidangan gratis setiap harinya selama bulan suci Ramadan.
Persiapan Dimulai Sejak Subuh
Kesuksesan penyelenggaraan buka basamo tak lepas dari kerja keras para relawan, khususnya ibu-ibu warga sekitar yang memulai aktivitas memasak sejak pukul 06.00 pagi. Ri, koordinator dapur sekaligus juru masak utama, mengungkapkan bahwa persiapan dimulai sejak dini hari dengan berbelanja bahan mentah seperti ayam, cabai, sayuran, dan beras di pasar.
“Jam 05.00 pagi kami sudah berangkat ke pasar bersama teman-teman. Semua bahan harus segar karena ini akan dikonsumsi ribuan orang yang berpuasa,” ujar Ri yang sebelumnya juga dipercaya memasak untuk program makan siang gratis di masjid yang sama.
Kualitas bahan menjadi prioritas utama. Menurut Ri, bahan yang segar tidak hanya tahan lebih lama, tetapi juga memiliki nilai gizi lebih baik—sangat penting bagi jamaah yang berbuka setelah seharian berpuasa.
Memasak dengan Teknik Tradisional
Memasak dalam jumlah besar memerlukan keahlian khusus, terutama untuk hidangan Minangkabau yang terkenal kaya bumbu dan teknik pengolahan rumit. Para ibu yang terlibat sudah sangat berpengalaman mengolah masakan tradisional.
Proses memasak dilakukan bertahap dengan api kecil agar makanan matang merata dan tidak cepat basi. “Kalau terburu-buru dengan api besar, bagian luar saja yang matang sementara dalamnya masih mentah. Ini yang membuat makanan cepat rusak,” jelas Ri.
Salah satu menu andalan adalah ayam lado hijau. Ayam terlebih dahulu diungkap (direbus) dengan bumbu hingga matang sempurna, baru kemudian diracik dengan bumbu cabai hijau. Metode ini memastikan daging matang hingga ke dalam.
Sambal, pelengkap wajib setiap hidangan Minang, juga diolah dengan teknik khusus. Cabai dan bawang digoreng terlebih dahulu sebelum diulek untuk menghasilkan aroma khas dan tekstur lebih lembut. Sambal kemudian disiram minyak panas bekas menggoreng agar lebih gurih dan tahan lama tanpa perlu dipanaskan ulang.
“Sambal tidak boleh dipanaskan berulang karena akan kehilangan kesegaran, warna berubah gelap, dan minyak bisa merusak kualitasnya,” ungkap salah satu relawan dapur yang telah bergabung selama delapan bulan.
Target 30.000 Porsi Sebulan
Sejak berdiri pada tahun 2020, Masjid Al-Hakim konsisten menggelar tradisi buka basamo dengan menargetkan 1.000 porsi per hari atau sekitar 30.000 porsi selama satu bulan Ramadan. Menu yang disajikan bervariasi, mulai dari ayam lado hijau, ikan balado, sayur anyang-anyang, sambal, hingga kerupuk.
Menjelang waktu berbuka, makanan yang telah matang dikemas rapat agar tidak terkena debu, kemudian diantar ke masjid sekitar pukul 17.00. Panitia masih memiliki waktu untuk menyiapkan penyajian sebelum jamaah berdatangan.
Sistem penyajian di Masjid Al-Hakim unik—makanan tidak dibungkus melainkan langsung disajikan di piring oleh panitia. “Kami ingin jamaah merasakan vibes makan bersama yang sesungguhnya. Kalau dibungkus, khawatir orang membawa pulang dan kebersamaannya hilang,” jelas salah satu pengurus masjid.
Porsi dibagikan secara merata oleh panitia untuk memastikan keadilan. “Takutnya kalau sistem prasmanan biasa, ada yang mengambil banyak sementara yang lain kekurangan. Yang penting semua bisa makan,” tambahnya.
Antusiasme Berbagai Kalangan
Menjelang waktu berbuka, Masjid Al-Hakim dipadati jamaah dari berbagai kalangan, termasuk anak muda yang mulai tertarik mengikuti tradisi ini. Salah seorang peserta yang pertama kali mengikuti buka basamo mengaku tertarik setelah melihat unggahan di media sosial.
“Biasanya saya hanya salat tarawih saja, tapi kali ini ingin mencoba buka puasa bersama sekaligus salat Magrib dan Isya di sini,” ujar seorang pemuda.
Setelah azan Magrib berkumandang, jamaah berbuka dengan takjil, dilanjutkan salat Magrib berjamaah. Usai salat, mereka berbaris rapi untuk menerima hidangan makan malam yang telah disiapkan.
Melestarikan Nilai Gotong Royong
Tradisi buka basamo bukan sekadar acara makan bersama, melainkan manifestasi nilai sosial masyarakat Minangkabau dalam menjaga kebersamaan. Dahulu, surau menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat Minang—tempat belajar agama, musyawarah, dan berkumpul di bulan Ramadan. Dari kebiasaan berbuka bersama para santri dan jamaah di surau inilah tradisi buka basamo berkembang hingga kini.
Yang menarik, seluruh proses memasak melibatkan warga setempat, bukan jasa katering. Pengurus masjid menjelaskan, “Kami bisa saja menyewa jasa katering yang mungkin lebih hemat, tapi kami ingin masjid berkontribusi menghidupkan ekonomi jamaah. Yang memasak adalah jamaah kami sendiri.”
Dengan demikian, dalam sepiring hidangan buka basamo tersimpan semangat gotong royong, rasa syukur, dan komitmen masyarakat Minang untuk memelihara silaturahmi di bulan penuh berkah. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan